Pada hari Kamis, 14 April 2016, tepat di hari
ke 211 meninggalnya Gaby, pihak kepolisian melakukan pembongkaran
terhadap makam Gaby atas seizin kami selaku orang tua Gaby, untuk
keperluan otopsi guna melengkapi berkas perkara agar kasus kematian Gaby
dapat segera naik ke pengadilan.
Sebelumnya, selama 7 bulan
sejak kepergian Gaby meninggalkan dunia ini dengan kasus kematiannya
yang secara hukum dianggap sebagai "Kematian yang tidak wajar", kami
telah berjuang semaksimal mungkin agar kasus ini bisa segera naik ke
meja hijau, namun kami tetap tidak mengizinkan jenazah anak kami
diotopsi karena tidak tega dan kronologi kematian Gaby yang menurut kami
sudah sangat jelas berdasarkan kesaksian dari ketujuh teman Gaby yang
melihat kejadian ( dimana rekamannya kami simpan hingga saat ini ),
serta kejadian tenggelamnya Gaby yang berlangsung pada jam pelajaran
sekolah, dimana kegiatan renang itu merupakan pelajaran wajib yang
ditetapkan oleh sekolah tersebut ( bukan ekstrakulikuler ). Namun
ketentuan hukum di negri ini tetap mengharuskan jenazah Gaby untuk
diotopsi bila kasus ini mau dibawa ke pengadilan.
Sebagai kepala
keluarga, keputusan mutlak ada di tangan papa Gaby. Sebagai seorang
istri, saya hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang
Maha Kuasa. Saya yakin apabila harapan kami sesuai dengan kehendak
Tuhan, pasti Dia akan buka jalan, dan Dia pasti akan menolong kami tepat
pada waktuNya.
Tidak pernah satu hari pun saya lalui tanpa
berdoa. Saya berdoa untuk ketenangan arwah Gaby dan saya berdoa agar
Tuhan turut serta membantu kami menyelesaikan kasus ini sesuai
kehendakNya, dengan tetap mengutarakan harapan saya ke hadiratNya, yaitu
agar kepergian Gaby tidak sia-sia dan bisa menjadi pembelajaran penting
di dunia pendidikan, serta bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Ketika kami menemui kesulitan dan jalan buntu dalam memperjuangkan kasus
Gaby, selalu ada jalan keluar secara ajaib. Mulai dari pemberitaan yang
simpang siur, pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta yang ada,
sampai kepada berita miring yang memojokkan dan memfitnah Gaby mengidap
penyakit epilepsi. Begitu luas berita itu tersebar di media masa dan
elektronik, hingga kami pun tidak sanggup membendungnya ditengah
kedukaan kami akibat kehilangan Gabriella, putri kesayangan kami.
Dalam ketidakberdayaan kami, disaat kami tidak tahu harus berbuat apa,
kami bawa semua pergumulan hidup kami ke hadapan Tuhan kami Yesus
Kristus. Setelah itu Tuhan mulai menunjukkan mukjizat itu satu persatu.
Puncak dari mukjizat yang Tuhan berikan
kepada kami, adalah ketika Dia mengubah pendirian papa Gaby yang sekeras
batu karang, yang sejak awal melarang keras jenazah Gaby untuk
diotopsi, menjadi mengizinkan jenazah Gaby untuk diotopsi. Dan keputusan
itu muncul setelah hampir 7 bulan jenazah Gaby terkubur.
Secara
logika, secara medis, dan secara ilmu pengetahuan, survey mengatakan
bahwa jenazah yang telah 7 bulan terkubur biasanya sudah mengalami
pembusukan. Menghadapi situasi tersebut, saya kembali berserah kepada
Tuhan. Saya mohon petunjuk Tuhan agar kami tidak salah dalam melangkah
agar tidak menimbulkan penyesalan bagi kami di kemudian hari.
Ketika saya berdoa, tiba-tiba dalam pikiran saya melintas ayat ini :
“Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke
tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon
menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak
menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan
menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap
sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka
memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka
datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama
mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.” ( Lukas
5:4-7 )
Lalu suara hati saya berkata "Tuhan tahu isi hati dan
maksud dari segenap perjuangan kami selama ini, dan kini Tuhan sudah
memberikan petunjuk kepada kami dengan merubah pendirian papa Gaby.
Walaupun hati papa Gaby baru diubah oleh Tuhan setelah Gaby terkubur
selama hampir tujuh bulan, tetapi saya yakin apabila semua itu berasal
dari padaMu, Engkau akan menolong kami tepat pada waktuNya dan aku
percaya pertolonganMu tidak pernah terlambat. Kalau Engkau yang menyuruh
kami Tuhan, akan kami izinkan otopsi itu, dan tolong bungkuslah jenazah
Gaby dengan darah Yesus agar jenazahnya tetap utuh dan dapat diotopsi.
Ketika makam Gaby mulai dibongkar, saya
berlari kedalam mobil untuk berdoa Rosario. Sebelum saya selesai berdoa Rosario,
pintu mobil diketuk oleh papa Gaby dan dua orang polisi. Mereka menginfokan
bahwa proses otopsi hampir selesai. Kemudian saya turun dari mobil dan suara hati saya
berkata “Nengok ke tenda ngga ya. Nengok…engga…nengok…engga…” Saya mau melihat langsung
kondisi Gaby, tapi saya takut menjadi shock dengan kondisinya saat itu. Karena penasaran, akhirnya saya nekad juga menengok ke kanan, ke arah tenda. Saya mencoba mengintip kedalam tenda tempat Gaby
diotopsi. Saya bisa melihat jenazah Gaby dari celah bagian tenda yang
transparan. Saya lihat kulitnya yang masih kuning langsat, rambutnya yang masih
tebal, badannya yang masih montok, tangannya pun masih bisa dibuat menjadi
posisi lurus ( saat di peti jenazah tangan ditekuk ke bagian perut ). Dari
keterangan polisi yang menyaksikan proses otopsi, jenazah Gaby masih terlihat
baik ( termasuk sebagian besar organ dalamnya ), walaupun telah 7 bulan
terkubur.
Menyaksikan itu, saya hanya bisa berkata "Terima kasih Tuhan. Engkau sungguh baik. Engkau Allah yang Maha Kuasa."
Kami mengucap syukur atas terkabulnya Doa Novena Tiga Salam Maria dan Doa Koronka Kerahiman Illahi.
NB : Sejak kejadian itu, selalu ada dorongan dari dalam hati saya untuk
memberitakan peristiwa ini kepada orang lain demi kemuliaan Tuhan.
Amin.