Monday, December 23, 2019

Perayaan Natal Keluarga Asip 2019 di Rubrik ZAO AN Koran Tribun Sumsel

Terima kasih kepada Ko Henky Honggo selaku Pengasuh Rubrik Zao An di Koran Tribun SumSel, yang telah memilih keluarga kami sebagai narasumber untuk edisi Natal 2019, yang terbit hari Minggu, 22 Desember 2019. Ini merupakan hadiah Natal yang sangat berkesan bagi kami sekeluarga dan juga bagi Gaby di Surga. 


KESEDERHANAAN BAWA KEDAMAIAN
Perayaan Natal Keluarga Asip

Tidak terasa tiga hari lagi perayaan Hari Natal (25/12/2019) bagi umat Kristiani telah tiba. Suka cita dalam menyambut Natal dilakoni dengan berbagai persiapan untuk hari yang penuh makna. Persiapan Natal juga dijalani oleh keluarga Asip sebagai penganut Katholik. Bersama Henky Honggo pengasuh Rubrik Zao An, melakukan telekonferensi dengan Asip, Verayanti, serta kedua anaknya yaitu Chelsea Rafaeli Howard dan Kenzo Joshua Howard. Ngobrol yang seru dan bermakna tentang apa yang dilakukan keluarga Asip menjelang Hari Natal 2019.

(ZA = Zao An) Halo apa kabar Asip dan keluarga?
(AP = Asip) Puji Tuhan baik dan sehat semua kami sekeluarga.

(ZA) Perayaan Natal udah semakin dekat nih, kira-kira apa persiapan keluarga dalam menyambut Natal 2019?
(AP) Persiapan kami dalam menyambut Natal lebih kepada persiapan batin, agar kami layak menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.

(ZA) Selain persiapan batin, pasti ada kegiatan yang dilakukan menjelang Natal, apa saja?
(AP) Biasanya menjelang Natal, kami memasang pohon Natal di rumah bersama anak-anak. Seperti lazimnya anak-anak, mereka yang paling antusias dalam memasang pohon Natal. Kami juga mulai memutar lagu-lagu Natal, agar suasana Natal yang hendak dijelang benar-benar terasa.

(ZA) Wah... senang sekali ya bersama anak-anak memasang pohon Natal. Setelah itu, untuk ibadahnya bagaimana Asip?
(AP) Kami sekeluarga pergi ke gereja untuk mengikuti misa malam Natal. Berhubung kami memiliki anak yang masih kecil, keesokan paginya tepat di hari Natal, kami kembali ke gereja untuk mengikuti misa Natal anak-anak. Misa malam Natal terasa lebih syahdu, sedangkan misa Natal anak-anak terasa lebih meriah, karena banyak sekali anak-anak yang hadir untuk mengikuti misa.

(ZA) Pas di hari Natal, apakah ada acara khusus setelah misa Natal anak anak?
(AP) Sejak kepergian Gaby, putri pertama kami 4 tahun yang lalu, seusai misa Natal anak-anak, kami selalu berziarah ke makam putri tercinta kami. Semasa hidupnya, kami selalu merayakan Natal bersama dengannya. Jadi setelah ia pergi meninggalkan dunia ini, seperti ada sesuatu yang kurang bila kami tidak mengunjungi makamnya. Kebersamaan yang dulu kami habiskan bersamanya di tempat rekreasi seusai misa Natal, kini kami habiskan di tempat peristirahatannya yang terakhir.

(ZA) Terharu sekali mendengar cerita ini. Tuhan pasti memberikan tempat terbaik untuk putri pertama keluarga Asip.  
(AP) Doa untuk putri pertama kami tidak pernah lepas dari kehidupan keluarga kami.

(ZA) Biasanya hari raya selalu ada penganan, hidangan apa yang disajikan untuk malam Natal?
(VY = Verayanti) Kami biasa merayakan Natal dalam kesederhanaan. Jadi menu makanan yang kami hidangkan juga menu sederhana saja. Namun kehadiran kue nastar dan kastengel tidak pernah absen dalam keluarga kami dalam menyambut Natal. Anak-anak juga sangat suka dengan kue tersebut. Biasanya saat malam Natal, sepulang misa, kami menyantap kue tersebut bersama-sama sambil memandang pohon Natal yang berkelap-kelip, dengan ditemani alunan musik Natal yang merdu. Itulah kebersamaan Natal yang selalu kami rindukan tiap tahun.

(ZA) Selain nastar dan kastengel, apakah ada resep spesial di momen Natal?
(VY) Resep spesial yang menjadi menu favorit keluarga kami adalah soto ayam kampung ala Oma Gaby. Soto ini juga merupakan salah satu menu favorit almarhumah Gaby. Saat Gaby berulang tahun yang terakhir ke 8, dia minta untuk dibuatkan soto ayam kampung. Oleh karena itu, kami seringkali menghadirkan soto ayam Kampung dalam momen-momen spesial seperti Hari Natal, agar kebersamaan bersama Gaby bisa selalu terkenang setiap kali kami menyantapnya.

(ZA) Tadi sempat cerita tentang mendengarkan alunan musik Natal. Lagu apa yang punya cerita khusus bagi keluarga Asip?
(AP) Lagu Natal yang paling berkesan dalam keluarga adalah Rudolph the Red-Nosed Reindeer. Setiap kali mendengar lagu ini, kami selalu teringat dengan almarhumah Gaby yang dulu sering menyanyikan lagu ini di rumah dengan penuh semangat dan sukacita dikala Natal tiba. Suara nyaring Gaby yang riang gembira, disertai goyangan kepalanya ketika menyanyikan lagu itu selalu terkenang di hati kami sekeluarga setiap kali Natal tiba.

(ZA) Berkesan sekali ya Asip. Lalu... apa makna Natal bagi keluarga Asip?
(AP) Bagi kami, Natal merupakan bukti nyata kasih Allah yang begitu besar bagi umat manusia, sehingga ia mengutus putra-Nya untuk hadir ke dunia. Kelahiran Sang Juru Selamat yaitu Yesus Kristus, memberikan harapan akan keselamatan bagi kita. Hal itu mendatangkan sukacita dan damai di hati. Sukacita itu kita resapi dalam kesederhanaan, sama seperti kelahiran Tuhan Yesus sendiri yang sangat sederhana, yaitu di sebuah kandang domba. Lewat perayaan Natal, kita mau bersuka cita atas kelahiran bayi Yesus bersama Yusuf dan Bunda Maria dalam kesederhanaan dan kesyahduan malam yang membawa kedamaian.

(ZA) Menarik sekali ngobrol bersama keluarga Asip tentang perayaan dan makna Natal. Pesan yang disampaikan bagi kita semua untuk selalu mensyukuri karunia-Nya dengan hidup sederhana dan selalu berdoa. Cerita yang sangat inspiratif ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca rubrik Zao An. Terima kasih Asip dan keluarga, di kesempatan yang akan datang, kita bisa ngobrol kembali. Amin,
(AP) Puji Tuhan terima kasih. (Henky Honggo)



Resep Soto Ayam Kampung Ala Oma Gaby
( Untuk 8 – 10 Porsi )

Bahan bumbu :
Bawang merah 6 buah
Bawang putih 4 buah
Kemiri 10 buah
Kunyit 1 ruas
Jahe ½ ruas
Lada, garam, dan penyedap rasa sesuai selera
Daun jeruk 15 lembar
Serai 4 batang, lengkuas ½ ruas, daun salam 4 lembar

Bahan isi :
Ayam Kampung 1 ekor, potong 8 bagian
Kentang 3 buah
Telur 4 butir
Tomat 2 buah
Kol sesuai selera
Tauge sesuai selera
Soun sesuai selera
Daun bawang dan seledri sesuai selera
Bawang goreng
Emping
Jeruk nipis 4 buah

Bahan sambal :
Cabe merah sesuai selera
Kemiri 6 buah

Cara membuat :
1.      Rebus air hingga mendidih, lalu masukkan ayam kampung yang telah dipotong menjadi 8 bagian. Rebus ayam hingga matang, lalu angkat dan tiriskan. Simpan air kaldu rebusan ayam untuk membuat kuah soto.
2.      Haluskan semua bahan bumbu (kecuali daun jeruk, serai, lengkuas, dan daun salam)
3.      Tumis hingga harum semua bahan bumbu yang telah dihaluskan tadi, lalu angkat dan masukkan ke dalam air kaldu ayam. Masukkan juga daun jeruk, daun salam, serai, dan langkuas yang telah dimemarkan. Tambahkan air secukupnya untuk takaran 8-10 porsi, masak hingga air mendidih.
4.      Rebus kentang hingga matang lalu angkat dan tiriskan
5.      Goreng ayam dan kentang yang telah direbus, lalu angkat dan tiriskan
6.      Seduh soun dengan air mendidih, lalu angkat dan tiriskan
7.      Rebus telur hingga matang, lalu kupas kulitnya dan potong masing-masing menjadi 2 bagian
8.      Rebus kol dan tauge, lalu angkat dan tiriskan
9.      Tomat potong kecil
10.  Iris daun bawang dan seledri, jeruk nipis, serta siapkan bawang goreng dan emping untuk taburan atas soto
11.  Tumis cabe merah dan kemiri hingga layu, lalu angkat, tiriskan. Haluskan bahan sambal tersebut lalu tambahkan sedikit air dan cuka sesuai selera 





Saturday, September 14, 2019

Wednesday, April 10, 2019

KARENA KAU BERARTI BAGIKU


Selasa, 9 April 2019, di PN Jakarta Barat, dari pukul 10.00 papa Bie sudah berada di depan ruang sidang Wirjono Prodjodikoro, bersama Bapak Dr. Tommy Sihotang, SH, LLM. sebagai kuasa hukum kami. Sekitar pukul 14.00, sidang baru digelar, dan hanya berlangsung beberapa menit saja, karena sebagian besar pihak tergugat tidak hadir.

Kerjaan papa Bie hari ini banyak, tapi semuanya papa tinggalin supaya bisa hadir di sidang perdana gugatan perdata atas kasus kematian Bibie. Papa bilang ke mama "Biarin lah. Ini perjuangan terakhir aku buat Gaby."

Sekeras apapun perjuangan papa dan mama selama ini, memang tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa Bibie lagi. Tapi papa dan mama berharap setidaknya perjuangan papa dan mama bisa menjadikan nyawa Bibie berarti, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.

Setiap orang tua punya cara tersendiri untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang mereka sayangi, dan ini cara papa dan mama untuk menyayangi Bibie.

Manusia hanya bisa berusaha, hasil akhirnya biarlah Tuhan yang menentukan.



Saturday, February 2, 2019

"HAMPIR SAJA KEBUANG"



Setelah dokter di RS tempat dimana Gaby dilarikan oleh pihak sekolah membisikkan kepada mama bahwa Gaby telah tiada, dokter menyuruh perawat untuk melepas baju renang yang saat itu masih melekat di badan Gaby. Setelah itu baju renang dan celana itu dimasukkan ke kantong plastik dan diserahkan kepada mama. Kantong plastik itu mama letakkan di mobil.

Setelah itu mama dan papa mendampingi jenazah Gaby yang setelah keluar dari ruang jenazah di RS tersebut, langsung dibawa ke RS Polri Kramatjati untuk divisum. Setelah itu mama dan papa mengurus jenazah Gaby di rumah duka dan memandikan Gaby untuk yang terakhir kalinya.

Setelah peti jenazah Gaby diletakkan di ruang duka, dan malam semakin larut, mama pulang bersama dede dan ama, dengan diantar paman Gaby ( adik papa Gaby ), sementara papa Gaby masih berada di rumah duka. Rencananya mama hanya mengambil barang-barang untuk diletakkan di peti jenazah Gaby dan akan segera kembali lagi dengan diantar paman Gaby. Maka papa Gaby menunggu disana sampai mama balik lagi ke rumah duka.

Sesampainya di rumah, mama membawa turun barang-barang, salah satunya adalah kantong plastik yang berisi baju renang pink dan celana dalam kuning Gaby. Selain kantong berisi baju renang Gaby, mama juga menurunkan satu kantong berisi seragam batik biru Gaby yang Gaby pakai saat berangkat ke sekolah, seragam yang dipakai Gaby sebelum pelajaran renang dimulai, sebelum ia menggantinya dengan baju renang.

Ketika mama mau melangkah masuk ke rumah, suara hati mama berkata "Nih baju renang sama celana dalam kuning mendingan ga usah dibawa masuk ke rumah. Bawa sial aja nih baju renang dan celana dalam, karena Gaby meninggal pakai baju renang dan celana ini. Kalau yang plastik berisi seragam Gaby itu harus disimpan buat kenang-kenangan dimana Gaby saat itu memasukkan seragam itu dalam keadaan hidup dan ternyata itu adalah saat-saat terakhirnya sebelum akhirnya pelajaran renang wajib di sekolah itu merenggut nyawanya secara paksa."

Mama lalu membuka tutup tempat sampah yang ada di halaman rumah dan membuang plastik berisi baju renang pink dan celana dalam kuning Gaby itu ke dalamnya. Lalu membawa masuk plastik yang berisi seragam Gaby untuk disimpan.

Setelah barang-barang yang hendak dibawa ke rumah duka terkumpul, dan mama bersiap mau berangkat lagi ke rumah duka, dede terlihat gelisah sekali tidurnya. Akhirnya mama memutuskan untuk ngga jadi berangkat malam itu, tetapi menundanya menjadi besok pagi, karena ngga tega ninggalin dede. Mama menelpon papa Gaby dan akhirnya papa Gaby juga pulang ke rumah saat dini hari.

Lalu mama memberitahu paman Gaby yang menunggu mama untuk mengantar balik mama ke rumah duka, bahwa mama tidak jadi balik ke rumah duka malam itu. Lalu paman Gaby berkata "Oh ia, tadi polisi minta baju renang Gaby buat jadi barang bukti. Aku bawa aja sekarang sekalian biar bisa dikasihkan ke polisinya. Biar ngga lupa."

Mama langsung jawab "Wah, sudah aku buang ke tong sampah. Untung diingetin. Kalo ilang gimana tuh." Sambil buru-buru mama ambil lagi plastik berisi baju renang itu dari tempat sampah. Untung aja malam itu paman Gaby yang anter mama pulang, jadi bisa mengingatkan mama untuk mengamankan baju renang itu untuk diserahkan ke polisi. Kalau tidak, plastik berisi baju renang itu besoknya pasti sudah diangkut sama mobil sampah yang setiap hari mengambil sampah-sampah ke setiap rumah. Mau cari dimana lagi lagi coba tuh baju renang Gaby kalo hilang ? Itulah bukti bahwa Tuhan masih baik sama kita Bie...

Sampai Putusan Kasasi dari Mahkamah Agung, baju renang pink dan celana dalam kuning Gaby masih selalu disebut-sebut. Dan mama selalu teringat kisah dibalik baju renang pink dan celana dalam kuning ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terlampir foto kenangan saat Gaby memakai baju renang pink dan celana dalam kuning yang disebutkan dalam Salinan Putusan Kasasi.

Hasil KASASI PIDANA Kasus Kematian Gaby di Sekolahnya...




Monday, September 17, 2018

SURAT TERAKHIR GABY



(berdasarkan penggalan naskah yang dibuat untuk mengenang Gaby yang berpulang ke rumah Bapa 3 tahun lalu)

Kamis, 17 September 2015 ( pagi )

Pukul 05.45, seperti biasa aku membangunkan Gaby dari tidurnya dengan mencium pipi dan dagunya ( aku suka dengan bentuk dagu Gaby yang cantik). Gaby lalu bangun tidur dengan manis (sudah gampang dibangunin ) dan langsung menuju kamar mandi untuk aku mandikan seperti biasanya. Setelah Gaby selesai mandi, baru giliran dede yang aku mandikan.

Setelah semua berseragam rapi, aku menanyakan kepada Gaby mengenai tugas yang tertulis di agendanya, tentang Food Groups ( dairy foods, fruit and vegetables, carbohydrate, protein ( fish and meat ), fat and sugar.

"Bie, nih kemarin malem mama udah guntingin gambarnya dari majalah, bener ga gambarnya kayak gini ?" tanyaku kepada Gaby mengenai tugasnya yang harus dikumpul Senin depan ( 4 hari lagi ).
Jawab Gaby "Yang ini bener. Yang ini gambarnya kegedean ma. Yang gambar nasi ini digunting aja ma. Nasinya masuk ke carbohydrate, yang gambar ayam bakarnya masuk ke protein. Ma, kata miss, gambarnya ngga boleh gede-gede, dan gambarnya ngga boleh hitam putih, harus berwarna. Nanti ditempel di karton HVS kayak yang di buku Science."

Mama jawab "ok, ntar mama cariin deh di internet, diprint warna."

Lalu Gaby bertanya "Mama selalu bantuin tugas Bibie emangnya mama selalu mau Bibie dapet nilai excellent ya ?"

Jawab mama "Ia lah Bie. Mama kan sayang Bibie." Dan Gaby tersenyum nyengir ke mama.

Sesaat kemudian, aku membuka lemari pakaianku, hendak mengambil sisir yang biasa kuletakkan di rak paling atas bagian depan lemari. Di bawah sisir tampak sepucuk surat yang dikemas rapi dengan amplop sederhana hasil buatan tangan. Sepertinya penulis surat tersebut sengaja meletakkan surat itu di bawah sisirku, agar aku dapat menemukan dan membacanya.

Aku menyentuh amplop itu. Di bagian depan amplop tertulis ”Love : Gaby.” Aku menyimpulkan bahwa itu surat dari Gaby yang sengaja ia tulis untukku. Kemarin sore memang sempat kulihat ia duduk di meja belajarnya dan menuliskan sesuatu pada secarik kertas putih.

Aku tergoda untuk membuka isi amplop itu. Ku lihat ada beberapa lembar kertas didalamnya. Mengingat kami harus segera berangkat ke sekolah, aku kemudian mengurungkan niatku untuk membuka amplop tersebut pagi itu. Suara hatiku berkata “Ah, waktunya sudah mepet. Kami harus segera berangkat. Nanti makin siang jalanan makin macet. Bisa-bisa terlambat sampai di sekolah. Nanti siang saja aku membacanya. Biasanya Gaby juga sering kok tulis-tulis surat untukku. Tapi tumben kali ini suratnya ia kemas dengan rapi dalam amplop, dan ia tidak memberikannya secara langsung kepadaku. Hmmm, kira-kira apa yah isi suratnya ?” Aku pun kembali meletakkan amplop surat tersebut di tempat semula aku menemukannya.

Ketika aku sedang menyentuh dan membaca tulisan di bagian depan amplop surat itu, dari sudut mataku aku melihat Gaby menatapku, namun ia tidak berkata apa-apa. Mungkin dia berpikir “Oh, mama sudah liat ada surat dari Bibie.”

Aku kemudian menyisir rambutku, rambut Gaby dan juga rambut Chelsea. Lalu kuletakkan kembali sisirku diatas amplop surat Gaby, sehingga posisi amplop itu sesuai dengan posisi ketika aku pertama kali menemukannya.

Kututup lemari pakaian, lalu aku menyuruh anak-anak pamit dengan papanya. Kami pun keluar dari kamar, menuruni tangga rumahku yang berbentuk L, lalu mereka masing-masing mengenakan sepatu. Di bawah, ama ( nenek mereka ) telah siap mengantarkan kami sampai masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, kami saling melambaikan tangan kepada ama sambil berkata “Bye-bye Ama…”

Di mobil dalam perjalanan ke sekolah, Gaby berkata "Ma jangan lupa ya nanti bikinin Bibie puding love." Mama jawab "Ok boss. Ntar pas pulang sekolah Bibie buka kulkas pasti udah ada puding lovenya, ok ?"

Setelah sampai di sekolah ( pukul 07.20 ), mama anter Gaby dan dede ke tangga depan. Gaby berkata lagi "Ma, cium dulu." Seperti hari-hari sebelumnya, tanpa diminta pun sy selalu mencium Gaby dan dedenya sebelum masuk kelas. Tapi kata-kata “Ma, cium dulu” ternyata menjadi kata-kata terakhir Gaby kepadaku.

Setelah mencium kedua anakku, mereka menaiki tangga dan aku mengawasinya sampai mereka hilang dari pandanganku. Sejak Gaby kelas 3 SD, aku tidak selalu mengantar Gaby dan adiknya sampai di depan kelas mereka, karena sering ditegur oleh guru-guru disana untuk di drop saja dibawah. Jadi sejak kelas 3 SD, aku mengganti tas trolly Gaby dengan tas ransel agar lebih ringan ketika dibawa menaiki tangga sampai ke kelasnya. Sejak kelas 3 SD pula, letak kelas Gaby juga semakin tinggi, yaitu di lantai 3.

Seperti biasa, setelah mengantar mereka ke sekolah, aku langsung menuju kantor. Setelah buka kantor ( pukul 08.00) aku ke pasar belakang untuk beli cetakan puding pesanan Gaby. Setelah itu aku balik ke kantor dan browsing google mencari gambar-gambar Food Groups untuk tugas Gaby.
Pukul 09.11, ponselku berdering. Itu adalah panggilan telepon dari pihak sekolah Gaby yang mengabarkan bahwa aku harus segera ke Rumah Sakit secepatnya. Aku bergegas ke rumah sakit, namun setibanya di rumah sakit, aku menemukan Gaby di emergency room dalam keadaan sudah meninggal dunia.

Hal ini dipertegas oleh keterangan Dokter di RS tersebut, yang mengatakan Gaby tiba di RS pukul 09.12 dalam keadaan sudah meninggal dunia.

                                                                              * * *
Hidup ini kadang jalan ceritanya sulit dimengerti dan penuh dengan dinamika naik turun. Kadang kita merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna, namun kadang kita mengalami kepahitan hidup yang sangat mendalam.Hanya relasi yang baik kepada Tuhan yang dapat membuat kita tetap kuat dalam menghadapi segala kepahitan hidup ini.

Ukirlah kenangan indah bersama orang-orang yang kita cintai ( suami, istri, anak-anak, orang tua, family, teman, dll. ). Sebab kita tidak pernah tahu apakah hari ini akan menjadi hari terakhir bagi kita untuk dapat bersama-sama dengan mereka. Entah hidup kita yang akan berakhir, entah hidup mereka yang akan berakhir.

                                                                              * * *
Kamis, 17 September 2015 ( malam )

Aku pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang Gaby yang hendak dimasukkan ke dalam peti jenazah, sekaligus mengantar Chelsea dan omanya pulang.

Sekitar pukul 23.30, kami tiba di rumah. Chelsea dan omanya bersiap untuk istirahat. Malam itu Chelsea terlihat sangat lelah dan shock atas kepergian cie-cie Gaby untuk selama-lamanya.

Aku mengantar Chelsea ke kamar. Setelah ia berbaring di tempat tidurku, aku beranjak menuju lemari. Aku membuka pintu lemari dan menatap amplop surat yang tadi pagi belum sempat kubaca suratnya. Jantungku mendadak berdebar-debar. Aku mengambil surat itu dengan perasaan hancur, sedih dan perasaan campur aduk yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Kupandang tulisan yang tertera di bagian depan amplop, yang tadi pagi sempat kubaca. Tertulis “Love : Gaby.” Meskipun kata-katanya masih tetap sama, sungguh berbeda rasanya makna dari kata-kata itu bagiku. Surat itu ternyata menjadi surat terakhir Gaby untukku. Surat yang terakhir kali Gaby tulis satu hari sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selamanya, meninggalkan papanya, meninggalkan adiknya, meninggalkan amanya, dan meninggalkan dunia ini.

Kubuka surat itu dengan penuh penyesalan. “Kenapa nggak dari pagi tadi saja sih aku buka suratnya ? Sekarang jadi terlambat kan mengetahui isi surat Gaby !” batinku berteriak. Aku menemukan tiga lembar kertas di dalam amplop itu. Satu lembar berupa surat yang dilipat, satu lembar berupa gambar hello kitty yang dulu pernah aku gambarkan untuknya, satu lembar berupa cetakan layout untuk cover diary yang dulu pernah aku hadiahkan kepadanya.

Pertama-tama, kubuka surat yang dilipat dengan jantung berdebar-debar. Di pojok kiri atas surat itu tertulis “From : Gaby.” Dibawahnya tertulis “Gaby Love Ma and Pa.” Pada baris terakhir ada gambar love dengan kata “love” di dalamnya, lalu disebelah kanannya tertulis “Ma and Pa.” Membaca surat itu rasanya seperti Gaby masih hidup, dan Gaby sendirilah yang membisikkan kata-kata yang tertulis dalam surat itu secara lisan ke telinga mama. Ya, mama mengang mengimani bahwa roh Gaby tetap hidup, dan hanya beralih dari dunia ini menuju kehidupan kekal di Surga.

Setelah selesai membaca surat yang terlipat tadi, aku membuka lipatan cetakan layout cover diary Gaby yang dulu pernah aku buat untuknya dengan design special sebagai hadiah Natal. Ternyata di dalamnya ada tulisan lagi yang berbunyi “I love mother. Gaby love Ma.”

Aku pun memandang gambar wajah hello kitty yang dulu pernah aku buatkan untuknya. Gambar sederhana yang dulu aku buat diatas secarik kertas bekas kecil ternyata masih disimpannya dengan rapi.

Setelah itu, aku mandi dan mengumpulkan barang-barang milik Gaby satu per satu. Setelah semua barang-barang Gaby terkumpul, aku bersiap untuk segera kembali ke Rumah Duka. Namun saat hendak pergi, aku melihat Chelsea tidurnya sangat gelisah. Seperti kaget-kagetan tidak seperti biasanya. Mungkin dia shock dengan kenyataan cie-cie kesayangannya meninggal dunia.

Melihat kondisi Chelsea seperti itu, aku menjadi ragu untuk meninggalkannya pergi. Aku lalu memutuskan untuk menemani Chelsea tidur di sampingnya malam itu. Aku telpon papa Gaby dan mengabarkan bahwa Chelsea tidak bisa ditinggal. Akhirnya papa Gaby juga pulang ke rumah, dan adiknya papa Gaby yang menunggu jenazah Gaby di Rumah Duka.

Keseokan paginya, kami baru kembali ke Rumah Duka.