Sunday, January 24, 2016

SETELAH GABY DINYATAKAN TIADA



Pagi itu, tgl. 17 September 2015, setelah dokter menyatakan Gaby telah meninggal, waktu serasa berhenti bergerak dalam hidup saya.
Anehnya, walaupun saat itu saya dilanda kesedihan yang mendalam, namun saya merasa ada suatu kekuatan yang mengatakan kepada saya “Gaby itu tidak mati Vera. Hidupnya bukan dilenyapkan, tapi hanya diubah. Rohnya tetap hidup dan bisa melihat kamu disini. Bahkan kehidupan yang lebih indah dari dunia ini telah menantinya. Tuhan Yesus mengasihi Gaby.” Saya rasa itu suara Tuhan untuk menguatkan saya.
Tapi yang namanya manusia, menerima kenyataan anak yang segar bugar dan baru sekitar 1,5 jam saya antar sekolah, tahu-tahu sudah menjadi jenazah adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.
Sangat miris rasanya membayangkan saya sudah tidak bisa lagi memeluknya, menciumnya, membangunkan tidurnya di pagi hari, memandikannya, mengantar dan menjemputnya saat sekolah dan les, menemaninya belajar dan buat PR, melihat senyumnya, bermain bersamanya, mengajaknya jalan-jalan, nonton film kesukaannya di bioskop, membuatkan makanan kesukaannya, main layangan dan berpelukan bersamanya sambil melihat sunset di dak rumah, dan seribu kenangan lainnya yang sudah saya lakukan bersama Gaby.
Sudah tidak ada lagi Gaby yang selalu memeluk saya dengan kuat dan manja ( khususnya saat selesai mandi pagi, dan saat saya menjemputnya di sekolah ), menelpon saya berkali-kali untuk cepet pulang ke rumah, berlari untuk membukakan pagar saat saya pulang ke rumah, menunggu saya pulang hingga ketiduran di sofa ( kalau saya lagi keluar rumah dan pulang kemaleman ), menulis surat-surat cinta untuk saya, mengatakan kepada saya “GABY LOVE MAMA AND NEVER GIVE UP FOR MAMA !”, dan setumpuk kebaikan lainnya yang dilakukan Gaby kepada saya.
RASA KEHILANGAN GABY ITU YANG MENYIKSA BATIN SAYA SAAT ITU.
SAYA KEHILANGAN SEORANG ANAK YANG BAIK, PENURUT, DAN SANGAT MENYAYANGI PAPA, MAMA, DEDE DAN AMANYA.
(Gaby selalu bilang kalo dia paling sayang sama mama. Dari bayi selalu maunya deket-deket mama dan ga mau ditinggal pergi sama mama. Ditinggal pergi sebentar aja pasti nangis ga berenti-berenti. Pernah mamanya mau angkatin jemuran baju di depan rumah, dan Gaby ditaruh di box bayi ( masih bisa lihat mamanya sebab box bayinya di ruang tamu ), tetep aja nangis. Akhirnya mama angkat jemuran sambil gendong Gaby. )
Terlepas dari kesedihan yang melanda saya, suara hati saya berkata “Kamu kan sayang Gaby ! Ayo doain Gaby supaya Yesus menerimanya masuk ke dalam Surga.” Langsung saya memeluk Gaby dan membisikkan doa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya, lalu doa spontan “Tuhan Yesus terima kasih Tuhan sudah kasih Gaby buat saya. Saya mohon ampunilah dosa-dosa Gaby dan terimalah Gaby dalam pangkuan kasihMu. Gaby anak baik. Berikanlah kebahagiaan abadi buat Gaby di Surga.” Lalu saya bilang sama Gaby “Tuhan Yesus sayang Gaby. Tuhan Yesus akan jagain Gaby. Gaby happy-happy ya di Surga. Mama sayang Gaby. Terima kasih Gaby udah jadi anak mama yang paling hebat.”
Setelah itu, saya dan papa Gaby menelpon keluarga dan teman-teman kami untuk mengabarkan berita duka ini. Tidak lama kemudian, Gaby dipindahkan ke ruang jenazah.
Ada dua orang mommy yang datang beberapa menit setelah saya memberitahu kabar duka cita itu ( mommynya teman sekelas Gaby, dan satunya lagi mommynya teman sekelas Chelsea / dedenya Gaby ).
Perawat disana lalu mengingatkan saya untuk menyediakan pakaian dan sepatu Gaby, untuk dipakaikan di peti jenazah.
Ditemani oleh mommynya teman sekelas Chelsea, saya mencari pakaian dan sepatu untuk Gaby di Mall Puri Indah ( mall terdekat ), sementara papa Gaby menemani jenazah Gaby di ruang jenazah.
Sedangkan mommy teman sekelasnya Gaby yang saat itu juga berada disana, saya minta bantuannya untuk menjemput Chelsea dan omanya di sekolah dan mengantarnya kepada kami di rumah sakit Puri.

***
Setelah saya mendapatkan dress dan sepatu buat Gaby (untuk dia pakai di peti jenazah), kami kembali menuju ruang jenazah. Chelsea sudah ada di ruang jenazah itu saat saya kembali. Dia menangis kejer dan bilang ke saya “Ma, dede mau Cie-cie Gaby. Dede mau sama Cie-Cie. Dede sayang cie-cie.”
Sebelumnya, saat kami belum kembali dari mall, Chelsea sempat melihat jenazah Gaby bersama ama dan popo, om dan tantenya, saat mereka tiba di ruang jenazah.
Saya tanya sama Chelsea “Dede ngomong apa sama cie-cie tadi pas lihat jenazah cie-cie ?” Dede menjawab ”Cie bangun cie. Jangan tinggalin dede cie. Bangun cie.”
Sangat miris saya mendengar jawaban Chelsea. yang baru berumur 6 tahun, yang begitu polos dan tulus mengucapkan kata-kata buat Cie-cie Gaby yang telah meninggalkannya untuk selamanya.

Tulisannya Menyentuh Hati Saya






MEMBACA TULISAN GABY INI MEMBUAT AIR MATA SAYA MENGALIR KELUAR. BUKAN UNTUK MERATAPI KEPERGIANNYA, TAPI KARENA TULISANNYA MENYENTUH HATI SAYA.
Orang tua yang baik pasti akan selalu menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak mereka sejak usia dini ( sesuai dengan iman kepercayaan mereka ), dengan harapan agar kelak anak mereka bisa tumbuh menjadi anak yang berkarakter baik, bermoral, dan takut akan Tuhan.
Sekolah berlabel internasional tempat Gaby bersekolah adalah sekolah umum ( jadi agamanya masing-masing ). Karena itu, kami merasa Gaby kurang mendapatkan pendidikan agama Katholik yang cukup dari sekolah tersebut.
Maka supaya Gaby bisa lebih memahami ajaran iman Katholik ( sesuai iman kepercayaan kami ), papa Gaby membelikan buku Pendidikan Agama Katholik Sekolah Dasar seperti pada gambar terlampir, untuk diajarkan sendiri di rumah.
Awalnya saya menemani Gaby belajar buku Agama Katholik itu mulai dari buku 1A. Namun selanjutnya, Gaby dengan niat dan keingintahuan sendiri membaca dan mempelajari sendiri buku-buku itu secara berurutan, mulai dari buku 1A sampai seterusnya.
Gaby suka terlihat duduk di meja belajarnya dan membuka buku-buku itu, membacanya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di buku itu.
Pada awalnya, saya rajin mengecek jawaban-jawaban Gaby di buku itu. Namun beberapa bulan terakhir ini saya semakin jarang mengecek tulisan-tulisan Gaby di buku itu.
Sampai akhirnya, sebulan setelah kepergiannya, saya melihat buku agama Katholik itu masih tertumpuk di meja belajarnya.
Saya iseng membuka buku-buku itu dengan perasaan teriris ( orang tua mana yang tidak sedih saat mengecek barang-barang milik anaknya yang telah tiada, rasa kehilangan itu amat sangat terasa ).
Makin dibuka bukunya, makin besar rasa kehilangan itu, dimana saya harus membaca tiap-tiap tulisan Gaby di buku itu sebagai sebuah peninggalan yang amat sangat berharga buat saya.
Sampai akhirnya saya menemukan sebuah halaman yang menyentuh hati saya, sampai tak terasa saya meneteskan air mata. Air mata itu bukan untuk meratapi kepergian Gaby, tapi air mata haru membaca tulisan Gaby yang simple tapi sangat menyentuh hati saya.

“Bie, Maafin Mama Ya Sudah Bikin Bibie Nangis.”




Selama ini mama sangat bersyukur kepada Tuhan karena bisa memiliki Gaby.
Bagi mama, Gaby adalah anugerah terindah dari Tuhan buat mama.
Mama beruntung punya anak Gaby ( seperti yang sering mama bilang ke Gaby ).
Mama sangat menyayangi Gaby dan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik buat Gaby.
Mama selalu memberikan perhatian yang cukup buat Gaby setiap hari.
Mama selalu terilbat langsung dalam setiap tahap tumbuh kembang Gaby dari sejak Gaby lahir.
Mama selalu berusaha memberikan kebahagiaan buat Gaby ( ajak jalan-jalan, main bareng, membuat makanan kesukaan Gaby, dll ).
Mama selalu berusaha menjadi mama yang baik buat Gaby.
TAPI SEBAGAI MANUSIA BIASA, MAMA JUGA SUKA BERSIKAP TIDAK TAHU TERIMA KASIH KEPADA TUHAN, YANG UDAH KASIH GABY BUAT MAMA.
Kadang mama suka ngga sabar dan marahin Gaby kalo lagi ngajarin belajar.
Kadang mama suka memaksa Gaby melakukan sesuatu sesuai keinginan mama, tanpa mendengarkan keinginan Gaby ( arogan ) dengan kata-kata "Bibie kan anak mama, jadi harus nurut kata-kata mama !"
Kadang mama suka ngga konsentrasi saat diajak ngomong sama Gaby dan suka cuekin omongan Gaby, kalo mama lagi sibuk mikirin kerjaan mama.
Kadang mama suka nawar-nawar, nunda-nunda, dan bahkan menolak permintaan Gaby dengan berbagai alasan, bila permintaan Gaby tidak sesuai dengan pemikiran mama.
Kadang mama suka buat Gaby kecewa, dengan menyuruh Gaby mengalah sama dede.
Kadang mama suka melupakan janji mama kepada Gaby kalo lagi banyak urusan.
Kadang mama juga suka bohongin Gaby dan nakut-nakutin Gaby supaya Gaby nurut sama mama. Mama pernah bilang "Kalo Bibie nakal nanti giginya ngga numbuh-numbuh lho." Dan mama nyesel sudah ngomong begitu ke Bibie, karena mama tahu saat itu Bibie lagi takut kalau giginya benar-benar ngga tumbuh.
Kadang Gaby juga suka nangis gara-gara sikap mama. Kalau mama udah liat Gaby nangis, mama baru nyesel deh. Mama langsung minta maaf ke Gaby “Bie maafin mama ya udah bikin Bibie nangis.” Dan Gaby selalu menganggukkan kepalanya, disusul dengan cipika cipiki, saling berpelukan, dan setelah itu Gaby kembali tersenyum. Lalu mama bilang "Love Bie." dan Gaby menyahut "Love Ma."
Walaupun mama kadang suka buat Gaby kecewa, tapi Gaby ngga pernah memasukkannya ke dalam hati. Gaby ngga pernah memperhitungkan kesalahan mama kepada Gaby. Thanks yah Bie.
Biasanya mama suka ajak Gaby jalan-jalan ke tempat yang bisa bikin Gaby happy. Kalo mama berhasil bikin Gaby seneng, itu akan menghibur mama dan mengurangi rasa bersalah mama ke Gaby.
Tapi setelah Gaby pergi meninggalkan mama, setiap kali mama liat foto Gaby, mama selalu nyesel kalo inget dulu mama suka galak sama Gaby, walaupun mama tahu Gaby sudah maafin mama.
Kalo mama inget-inget hal itu, mama jadi malu sendiri sama Gaby, karena Gaby begitu tulus menyayangi mama dan ga pernah mempermasalahkan kalo kadang-kadang mama suka buat Gaby kecewa.
Mama juga malu sama Tuhan yang udah kasih Gaby buat mama. Udah dikasih anak baik dan sempurna, masih aja suka ga sabaran.
Mama nyesel belum bisa menjadi mama yang baik dan sabar buat Gaby. Sekali lagi maafin mama ya Bie.
Mama selalu berdoa semoga Tuhan mengampuni mama.
Mama sekarang akan mencoba untuk menjadi mama yang lebih baik lagi buat dede.
Amin.
Tuhan, ampunilah segala dosaku
Tuhan, kasihani hambaMu ini
Aku sungguh menyesal
Atas s'gala dosaku
Tuhan kasihanilah kami.

Friday, January 22, 2016

Lagu Spesial Buat Baby Gaby

Walaupun dulu Bibie masih di dalam perut mama dan MAMA BELUM PERNAH MELIHAT BIBIE, dan walaupun saat ini mama sudah TIDAK BISA MELIHAT BIBIE LAGI, mama akan SELALU SAYANG sama Bibie, sebab mama tau BIBIE HIDUP dan BISA MERASAKAN kasih sayang mama.





"Gebril sayang, mama sayang Gebril
Gebril cantik, anak Tuhan Yesus
Mama sayang sama Gebril...
Sayang banget sama Gebril."
* dengan irama seperti lagu "Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira... ( sering dinyanyikan saat misa malam Paskah ).
Waktu Bibie masih di perut mama, mama ciptain lagi ini buat Bibie. Mama selalu nyanyiin lagu ini sebelum mama bobo, dan Bibie pasti bergerak-gerak di dalam perut mama.
Di samping peti jenazah Bibie, mama juga nyanyiin lagu ini untuk yang terakhir kalinya.
Mama tau Bibie bisa denger nyanyian mama, baik saat Bibie masih di dalam perut mama maupun saat Bibie terbaring di dalam peti jenazah itu, sebab mama tahu kalo Bibie Hidup.
Lagu ini akan menjadi kenang-kenangan mama bersama Bibie. Mama berharap suatu saat nanti, mama bisa nyanyiin lagu ini sekali lagi buat Bibie, saat kita bertemu lagi setelah ajal mama tiba.
Mama ngga akan lupain lagu ini, sebab lagu ini mama ciptain spesial buat Bibie.
Mama masih inget kata-kata pertama Bibie waktu pertama kali bisa ngomong : "Bibie", lalu "Mama Bie", lalu disusul dengan "Papa Bie."
I hope to see you again in heaven my sweet little angle.
Ma love Bie Forever...

Bibie, Mama Bersyukur dan Bangga Bisa Memiliki Gaby




Tanggal 19 September 2015 merupakan malam minggu yang paling kelabu dalam hidup saya, karena malam itu adalah malam kembang dan misa tutup peti Gaby, putri pertama kami yang tercinta, di rumah duka Abadi.
Misa Tutup Peti dimulai pukul 19.30 dan dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Romo Aloysius Susilo Wijoyo, PR.
Setelah misa, saya meminta waktu kepada Romo untuk menyampaikan perasaan saya tentang Gaby kepada tamu-tamu yang hadir saat itu.
Terus terang, saya bukan orang yang terbiasa berbicara di depan orang banyak, apalagi dalam suasana duka seperti itu. Namun saat itu suara hati saya mendorong saya untuk menyampaikan perasaan saya tentang Gaby kepada tamu-tamu yang hadir.
Saya merasa roh Gaby ada disana.
Menurut kebanyakan orang, roh orang yang meninggal dalam beberapa hari pertama masih berada di dekat jenazahnya.Oleh karena itu, banyak orang memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dengan berdoa di dekat jenazah.
Perasaan saya malam itu begitu kuat, yaitu bahwa Gaby sedang berada di tengah-tengah kami, dan dia bisa melihat kami yang sedang berkumpul untuk mendoakannya. Maka, saya memaksakan diri untuk menyampaikan kesan dan kebanggaan saya bisa menjadi Mama Gaby.
Saya mau Gaby tersenyum bahagia melihat saya mengatakan kepada tamu-tamu yang hadir untuk yang terakhir kalinya, betapa saya sangat menyayanginya, betapa berartinya Gaby dalam hidup kami, dan betapa bahagianya saya bisa menjadi mama Gaby. Walaupun hanya 8 tahun saya hidup bersamanya di dunia ini, namun kasih sayang saya kepadanya tidak akan hilang untuk selamanya.
Intinya saya mau bilang “BIBIE, MAMA BERSYUKUR DAN BANGGA SUDAH MEMILIKI GABY. APALAGI PAS MAMA TAHU KALO BIBIE TERNYATA TENGGELAM KARENA NIAT MAU TOLONGIN TEMEN. MAMA BAHAGIA KARENA BIBIE SUDAH MENELADANI YESUS YANG PENUH CINTA KASIH DAN RELA BERKURBAN.”
Saya yakin, bagi seorang anak seperti Gaby, yang terpenting baginya adalah : papa mamanya tahu kronologi kejadian tenggelamnya seperti apa. Dan apa yang menyebabkannya bisa tenggelam.
Mungkin roh Gaby mau bercerita kepada kami gimana ceritanya dia bisa sampai tenggelam. Namun sayang kami sudah tidak bisa lagi mendengar suaranya karena alam kita sudah berbeda.
Untungnya, papa dan mama sudah mengetahui cerita yang sebenarnya kenapa Gaby bisa tenggelam, dari keterangan mommy dan teman-teman Gaby. Mungkin itu bisa memberikan sedikit ketenangan buat arwah Gaby.
Sebelumnya, Gaby dan saya sudah menyusun banyak sekali rencana untuk hari esok. Gaby mau makan pudding love buatan mama sepulang sekolah, Gaby mau les renang hari Jumat ( sehari setelah tanggal kematiannya ), Gaby mau ikut mama ke Reuni Akbar di sekolah mama, Gaby mau makan Ikkudo Ichi di Mal Puri, dan minta dibeliin Puding Puyo. Namun semua rencana itu hanyalah tinggal rencana yang tidak akan pernah terealisasi.
Kejadian yang menimpa Gaby ini, menyadarkan saya bahwa hidup benar-benar sementara. Anak yang 8 tahun lalu saya lahirkan, sekarang sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk kembali kepada penciptaNya.
SECARA DUNIA, KEMATIAN GABY SANGAT TRAGIS DAN MEMILUKAN.
NAMUN SECARA ROHANI, ADA KEBAHAGIAAN TERSENDIRI jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam, yaitu bahwa Gaby ternyata MEMILIKI CINTA KASIH DAN HATI YANG TULUS.
Inilah hidup. Begitu banyak hal yang bisa terjadi diluar kemampuan kita.
Gaby yang begitu sehat, lincah, energik, ceria, memiliki semangat hidup yang tinggi, dan baru mulai belajar untuk menjadi anak yang mandiri, secara tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini.
Semoga dengan kejadian ini, kita bisa lebih menghargai hidup, dan lebih menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita ( suami, istri, anak-anak, orang tua, family, teman, dll. ). Sebab kita tidak akan pernah tahu apakah itu akan menjadi hari terakhir kita dapat bersama mereka. Entah hidup kita yang akan berakhir, entah hidup mereka yang akan berakhir.
Hidup ini kadang jalan ceritanya sulit dimengerti dan penuh dengan dinamika naik turun. Kadang kita merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna, namun kadang kita mengalami kepahitan hidup yang sangat mendalam.
HANYA RELASI YANG BAIK KEPADA TUHAN YANG DAPAT MEMBUAT KITA TETAP KUAT DALAM MENGHADAPI SEGALA KEPAHITAN HIDUP INI.

Banyak perkara
Yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi
Didalam kehidupan ini
Satu perkara
Yang kusimpan dalam hati
Tiada satupun kan terjadi
Tanpa Allah perduli
Allah mengerti, Allah perduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
ku bergumul sendiri
Sbab Allah mengerti.

Dalam Mimpi Saya, Gaby Terangkat ke Atas Perlahan-lahan, Makin Lama Makin Tinggi


DIA TERTAWA LEPAS DAN TERUS MELAMBAIKAN TANGANNYA KEPADA KAMI DENGAN PENUH SEMANGAT.



Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Suster Briege McKenna, OSC ; para Romo dan Suster ( khususnya di wilayah Keuskupan Agung Jakarta dan Tangerang ), kelompok Legio Maria Gereja St. Matias Rasul, teman-teman lingkungan Cornelius, tim pendoa di SOS line Doa, saudara-saudari seiman maupun yang tidak seiman ( yang turut mendoakan Gaby dengan kepercayaan iman masing-masing ), baik yang kami kenal maupun kami tidak kenal, yang mengenal Gaby maupun yang tidak mengenal Gaby, yang selama ini telah bersimpati dan sudah berbaik hati dengan tulus mendoakan ketenangan jiwa Gaby dan mendoakan kelancaran proses hukum Gaby.
Kami sangat menghargai dukungan dan doa-doa dari Romo, Suster, dan saudara-saudari semua, dan semoga Tuhan membalas ketulusan hati Romo, Suster, dan saudara-saudari sekalian dengan rahmat yang berlimpah.
Kita yakin bahwa kekuatan doa dapat mengubah segalanya, dan tidak ada doa yang menjadi sia-sia.
Di hari ke 127 kepergian Gaby ini, saya kembali lagi memimpikan Gaby dan saya ingin membagikan cerita saya kepada teman-teman sekalian.
Sebelumnya, di hari ke 104 sejak kepergiannya, sy pernah bermimpi mencium pipi Gaby dan Gaby mengatakan "Mama, papa, ama, Bibie tuh ada disini. Bibie bisa lihat mama, papa, ama disini. Mama, papa, ama memang ga bisa liat Bibie, tapi Bibie ada. Kalau mama, papa, ama inget sama Bibie, Bibie ada. Bibie tau mama, papa, ama selalu inget sama Bibie."
Namun mimpi saya kali ini semakin luar biasa.
Dalam mimpi itu, saya sedang bermain bertiga dengan Gaby dan dedenya di halaman sebuah rumah ( saya tidak tahu itu di rumah siapa, yang pasti bukan di rumah kami ). Tidak jelas kami bermain apa, tapi kami bertiga duduk di lantai teras rumah itu.
Tiba-tiba Gaby berdiri, lalu DIA MEMBUAT TANDA KEMENANGAN KRISTUS ( TANDA SALIB ) dan BADANNYA TERANGKAT KE ATAS PERLAHAN-LAHAN, MAKIN LAMA MAKIN TINGGI.
Gaby MELAMBAIKAN TANGAN kepada saya dan dede dengan PENUH SEMANGAT sambil TERTAWA LEPAS, seolah-olah ia mau pergi ke suatu tempat yang sangat dia sukai, dan karenanya dia happy banget.
Dalam mimpi itu, saya dan dede memandang Gaby sambil bengong dan bingung dengan kejadian yang ada di depan mata kami, sementara Gaby terus naik keatas menuju langit biru sambil terus melambaikan tangannya dengan semangat dan terus terlawa lepas hingga menghilang dari pandangan kami. Gaby tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam mimpi tadi, tapi saya merasa Gaby mau bilang "Bye dede, bye mama. Bibie mau ke surga dulu ya." Dan setelah itu saya terbangun dari tidur.
Dalam mimpi itu, saya bisa merasakan kesedihan karena ditinggal Gaby terbang ke angkasa. Tapi kesedihan itu terobati dengan melihat Gaby yang penuh sukacita dan tertawa lepas, dan sangat semangat sekali melambaikan tanggannya kepada kami.
Mimpi yang membuat saya kembali terharu dan bahagia. Walaupun hanya sekedar mimpi, mungkin itu cara Tuhan untuk menghibur saya. Mungkin Tuhan mau bilang kepada saya "Jangan khawatir Vera, Gaby sudah bahagia bersamaKu."
Terima kasih sekali lagi atas dukungan doa dari Romo, Suster dan saudara saudari sekalian untuk Gaby selama ini, sehingga doa-doa kita telah membantu mengantar Gaby memperoleh kebahagiaan abadi di Surga.
Kebahagiaan Gaby adalah kebahagiaan saya. Kalo Gaby sudah bahagia, pasti saya ikut senang.
Wujud nyata dari kasih yang tulus adalah ikut berbahagia melihat orang yang kita kasihi memperoleh kebahagiaan, walaupun kita sendiri tidak bisa lagi hidup bersamanya.
Bila kita percaya dan beriman kepadaNya, kita tidak perlu takut lagi bila suatu saat kita harus berhadapan dengan yang namanya kematian. Sebab ada tertulis :
"Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." ( Yoh 11:25 ).
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." ( Yoh 14 : 2).
Tak usah kutakut, Allah menjagaku
tak usah kubimbang, Yesus p'liharaku
Tak usah kususah, Roh Kudus hiburku
Tak usah kucemas, Dia memberkatiku.
Amin.

Thursday, January 21, 2016

KATA-KATA TERAKHIR GABY “MA, CIUM DULU.”


KATA-KATA TERAKHIR GABY “MA, CIUM DULU.”


SETELAH ITU WAKTU SEAKAN TERHENTI SEPERTI DALAM PENGARUH TOMBOL “PAUSE.”


Pagi itu, Kamis tgl 17 September 2015 pukul 05.45, seperti biasa saya membangunkan Gaby dari tidurnya dengan mencium pipi dan dagunya ( saya suka dengan bentuk dagu Gaby yang cantik ). Gaby lalu bangun tidur dengan manis (sudah gampang dibangunin ) dan langsung menuju kamar mandi untuk saya mandikan seperti biasanya. Setelah Gaby selesai mandi, baru giliran dede yang saya mandikan.
Setelah semua berseragam rapi, saya menanyakan kepada Gaby mengenai tugas yang tertulis di agendanya, tentang Food Groups ( dairy foods, fruit and vegetables, carbohydrate, protein ( fish and meat ), fat and sugar.
"Bie, nih kemarin malem mama udah guntingin gambarnya dari majalah, bener ga gambarnya kayak gini ?" tanya saya kepada Gaby mengenai tugasnya yang harus dikumpul Selasa depan ( 5 hari lagi ).
Jawab Gaby "Yang ini bener. Yang ini gambarnya kegedean ma. Yang gambar nasi ini digunting aja ma. Nasinya masuk ke carbohydrate, yang gambar ayam bakarnya masuk ke protein. Ma, kata miss, gambarnya ngga boleh gede-gede, dan gambarnya ngga boleh hitam putih, harus berwarna. Nanti ditempel di karton HVS kayak yang di buku Science."
Mama jawab "ok, ntar mama cariin deh di internet, diprint warna."
Lalu Gaby bertanya "Mama selalu bantuin tugas Bibie emangnya mama selalu mau Bibie dapet nilai excellent ya ?"
Jawab mama "Ia lah Bie. Mama kan sayang Bibie." Dan Gaby tersenyum nyengir ke mama.
Di mobil dalam perjalanan ke sekolah, Gaby berkata "Ma jangan lupa ya nanti bikinin Bibie puding love." Mama jawab "Ok boss. Ntar pas pulang sekolah Bibie buka kulkas pasti udah ada puding lovenya, ok ?"
Setelah sampai di sekolah ( pukul 07.20 ), mama anter Gaby dan dede ke tangga depan. Gaby berkata lagi "MA, CIUM DULU." Seperti hari-hari sebelumnya, tanpa diminta pun sy selalu mencium Gaby dan dedenya sebelum masuk kelas. Tapi kata-kata “MA, CIUM DULU” ternyata menjadi kata-kata terakhir Gaby kepada saya.
Setelah saya cium kedua anak saya, mereka menaiki tangga dan saya mengawasi sampai mereka hilang dari pandangan saya.
Seperti biasa saya langsung menuju kantor. Setelah buka kantor ( pukul 08.00) saya ke pasar belakang untuk beli cetakan puding pesanan Gaby. Setelah itu saya balik ke kantor dan browsing google mencari gambar-gambar Food Groups untuk tugas Gaby.
Belum selesai mencari gambarnya, hp saya berdering ( pukul 09.11), dan suara di seberang sana berkata "Miss, bisa ke Rumah Sakit Puri sekarang. Gaby sakit."
Langsung saya jawab " ORANG GABY SEHAT KOK. DIA NGGA SAKIT. Kenapa memangnya ? GABY TENGGELAM YA ?".
Suara ditelpon menjawab "Segera dateng aja miss ke Rumah Sakit. Sekarang ya !"
Saya menjawab "Rumah sakit atau UKS ?" Saya masih tidak kepikiran sampai segawat itu Gaby sampai harus dibawa ke rumah sakit, sebab pihak sekolah tidak mengatakan yang sebenarnya kepada kami.
Saya langsung hubungi papa Gaby yang belum sampai kantor. Papa Gaby bilang saya duluan aja langsung ke Rumah Sakit, jangan tunggu papa Gaby. Takut kalau Gaby dalam keadaan gawat.
Saya langsung berangkat dengan hati was-was dan sedikit lemas, serta hati harap-harap cemas. Di jalan saya terus panggil-panggil Gaby sambil nyetir “Bibie kenapa Bie ? Mama sayang Bibie. Tuhan Yesus tolong Gaby.”
Sayangnya jalanan macet parah, jadi perjalanan saya serasa lama sekali. Dalam perjalanan hp sy berbunyi lagi “Miss sudah sampai mana ? Langsung ke Emergency room ya.”
Sampai di rumah sakit, langsung saya berlari ke Emergency Room. Saat saya tiba di Emergency Room, sy lihat hanya ada guru UKS di sekolah itu sedang menemani Gaby di Emergency Room yang terlihat bingung. Sementara dokter sibuk mengupayakan pertolongan untuk Gaby.
Gaby sudah terbaring tidak bergerak dengan mengenakan baju renang. Kacamata dan topi renang masih terjuntai di dekat Gaby. Terlihat banyak kantung-kantung penampungan yang berisi air kolam bercampur darah Gaby. Bibirnya sudah membiru. “Ya Tuhan. Apa saya mimpi ?” batin saya bertanya.
“Bibie, Bibie, kenapa Bie ? Kenapa jadi begini Bie ? Bangun Bie. Mama sayang Bibie. Mama sayang Bibie. Bie, mama sayang Bibie. Bibie bangun dong Bie.” teriak saya spontan sambil memeluk Gaby.
“Tuhan Yesus, tolong Gaby. Tuhan Yesus tolong Gaby.” saya berteriak tak henti-hentinya sambil memeluk Gaby.
Kemudian papa Gaby tiba, dan langsung berteriak sambil menangis memeluk Gaby “Aduh Bie. Jangan tinggalin papa Bie. Bangun Bie. Papa sayang Bibie. Kenapa bisa jadi begini Bie ? Tuhan Yesus tolong Gaby. Tuhan Yesus tolong Gaby.”
Setelah beberapa menit dokter melakukan tindakan tapi tidak ada hasil, akhirnya dokter berbisik di telinga saya “Yang sabar ya bu. Gaby sudah ngga ada. Sebenernya sejak sampai di rumah sakit tadi Gaby sudah ngga ada. Cuma kita tetep coba upayakan memberikan tindakan. Tapi tetep ngga ada hasil. Sabar ya bu.”
Seperti mimpi di siang bolong rasanya saat itu. Antara percaya dan ngga percaya. Terjadi begitu saja diluar kemampuan saya. Tapi anehnya ada dorongan dari dalam hati saya yang mengatakan bahwa Gaby tidak mati. Jiwa Gaby masih ada disana dan mungkin sedang melihat kami papa mamanya. Mungkin itu cara Tuhan menguatkan iman saya.
Hati saya sebagai mama yang sudah mengandung, melahirkan, membesarkan, mendampinginya belajar dan buat PR, mengantar jemput sekolah dan les sangat-sangat hancur. Tapi saya berpikir, saat ini yang terpenting buat Gaby adalah doa, bukan tangisan. Bukankah doa seorang ibu kepada anaknya sangat besar kuasanya ? Dan surga ada di telapak kaki ibu ? Kewajiban saya sebagai mamanya yang sangat menyayanginya adalah terus mendoakan Gaby supaya dia senantiasa diliputi kebahagiaan abadi di Surga.
Saya membisikkan ke telinga Gaby : doa Bapa Kami ( doa yang juga saya panjatkan saat di ruang operasi Caesar 8 tahun lalu saat melahirkan Gaby ), Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya. Saya percaya Gaby sudah aman bersama Yesus dan Bunda Maria. Namun saat itu kesedihan tetap melanda saya jauh sampai ke lubuk hati saya yang paling dalam, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa memahaminya.
Untungnya saya sadar bahwa cara yang tepat untuk menyayangi anak kita yang telah pulang ke rumah Bapa bukanlah dengan cara terus menangisi dan meratapi kepergiannya, tapi dengan cara terus mendoakan dan mengenangnya seumur hidup kita.
Selamat jalan Gaby. Mama dan papa akan selalu menyayangi Gaby. Mama dan papa akan selalu bangga dan bersyukur kepada Tuhan, sudah diberikan anak sebaik Gaby. Maafkan mama dan papa bila kadang membuat Gaby sedih. Mama dan papa akan selalu mendoakan Gaby sampai nanti kita berkumpul kembali dalam kerahiman Allah. Terima kasih Gaby sudah jadi anak mama papa yang hebat.
Sampai ketemu lagi Gaby. Tungguin papa mama ya, suatu saat papa mama juga akan menyusul Bibie. Jangan sedih ya Bie, sebab Yesus akan memberikan kebahagiaan lebih dari yang papa dan mama sudah berikan buat Bibie.
Tuhan Yesus beneran hebat kan Bie ? Surga beneran indah kan Bie ?
Pasti Bibie sudah jawab "ia ma." tapi sayangnya mama ga bisa denger.