Aku terduduk di kursi kerjaku. Kursi biru ini telah setia menemaniku
selama hampir 7 tahun. Dalam setiap suka dukaku sejak awal merintis
usaha kecil-kecilanku, kursi biru ini tidak pernah mengeluh saat ia
harus menanggung bobot badanku dari pagi sampai malam. Di atas kursi
biru ini, tanpa kusadari aku telah mengukir banyak sekali kenangan
hidup, khususnya bersama anak-anakku.
Di atas kursi biru ini dulu aku sering memangku Gaby dan juga dede.
Di atas kursi biru ini aku sering menyuapi mereka makan sambil melayani pembeli.
Di atas kursi biru ini aku sering menemani Gaby membuat PR ( kadang PR
Kumon, kadang PR les Mandarin, kadang PR sekolah ). Terkadang Gaby suka
protes kalau dia lagi tanggung buat PRnya, tiba-tiba ada tamu datang
sehingga mama menyuruhnya menunggu sebentar.
Di samping kursi biru ini Gaby dengan setia menemaniku, bahkan seringkali ia menungguku sampai jam kerjaku selesai.
Tak jarang Gaby tertidur di bangku sebelah kananku saat ia menungguku
melayani pembeli yang datang membeli di waktu malam. Ya, jam kerjaku
dulu memang sampai jam 8 malam. Aku memang sengaja mengatur jam kerjaku
lebih panjang agar dapat menutup biaya sewa ruko yang lumayan tinggi.
Namun demikian, aku masih tetap bisa bercengkrama dengan kedua anakku
karena kami juga tinggal di ruko tempat usaha kami.
Di kursi biru
ini aku sering memanjakan Gaby dan dedenya di sela-sela kesibukanku.
Tak jarang pula aku mengecewakan mereka karena kesibukanku yang
terkadang menyita konsentrasiku.
Tahun demi tahun berlalu,
akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan antara tempat kerja dengan
tempat tinggal, dengan pertimbangan karena anak-anak kami sudah mulai
besar dan mereka membutuhkan ruang lingkup bermain yang lebih nyaman.
Sejak itu aku mulai membatasi jam kerjaku, dan lebih banyak menyerahkan
pekerjaanku kepada staffku. Prinsipku adalah "Kalau anak-anakku pulang
sekolah, aku juga harus pulang, karena sekarang tempat kerja sudah tidak
gabung lagi dengan tempat usaha. Mereka akan kecewa bila pulang ke
rumah ngga ada mamanya ( walaupun Amanya/ neneknya selalu stand by di
rumah )."
Baru sekitar 1,5 tahun kami menikmati suasana tempat
tinggal yang baru, Gaby mendadak kehilangan nyawanya saat mengikuti
pelajaran renang wajib di sekolah karena tenggelam di kolam renang
sekolahnya.
Kamis, 17 September 2015, pukul 09.11...
Di
atas kursi biru ini, aku sedang googling mencari gambar-gambar untuk
tugas Science Gaby tentang food groups yang akan dikumpul minggu depan.
Tiba-tiba aku mendengar ponselku berdering.
Di atas kursi biru ini, aku menarik laci meja kerjaku.
Di atas kursi biru ini, aku menerima panggilan telepon masuk dari admin
sekolah Gaby, yang menyuruhku bergegas datang ke rumah sakit.
Aku sempat berpikir
"Jangan-jangan penipu yang mengaku-ngaku anakku sedang gawat." Ternyata
teleponku diangkat oleh resepsionis yang membenarkan bahwa Gaby
dilarikan ke rumah sakit. Namun saat aku bertanya "Siapa tadi yang
nelpon saya ?" Resepsionis itu berkata "Sy kurang tahu. Mungkin Miss
Kris.... kali."
Aku mulai deg-degan dan sedikit
lemas. Aku lalu memberitahu papa Gaby via telepon dan papa Gaby
menyuruhku langsung ke rumah sakit, nanti dia akan menyusul segera.
Staff ticketing yang duduk di sebelah kiriku ikut tegang menyaksikan
keteganganku. Aku pun segera beranjak dari kursi kerjaku menuju rumah
sakit.
Aku memang cukup dekat dengan anak-anakku, namun andai
aku tahu bahwa salah satu anakku ( Gaby ) secepat itu pergi
meninggalkanku untuk selamanya, aku akan memilih untuk menghabiskan
seluruh waktuku bersama anak-anakku.
Sayangnya waktu tidak bisa
terulang kembali. Hanya kenangan yang akan selalu tersimpan dalam
sanubari. Kini waktuku full aku gunakan untuk mendampingi si dede,
sambil terus mendoakan Gaby supaya ia selalu bahagia di surga.
Secara iman aku percaya Gaby sudah bahagia di Rumah Bapa, tapi aku tetap
mendoakannya karena aku mau Gaby tetap merasakan kasih sayangku. Sejak
bayi Gaby paling senang kalau diperhatikan dan disayang-sayang mamanya.
Kata-kata terakhirnya "Ma cium dulu" menyiratkan makna bahwa Gaby selalu
mau jadi kesayangan mamanya... FOREVER....until we meet again !
Kata-kata "Ma cium dulu" itu pula yang memberi semangat dalam
memperjuangkan sebuah kebenaran atas kasus kematiannya. Sesungguhnya
kasih sayang sejati bukan diwujudkan dari sebuah ciuman, tapi dibuktikan
oleh perbuatan kasih yang nyata. Kasih itu akan selalu bersemayam di
dalam hati orang yang memilikinya dan hanya mampu dipahami oleh orang
yang mengalaminya secara langsung.