Saturday, September 16, 2017

SIDANG PEMERIKSAAN TERDAKWA DILANJUTKAN DI KOLAM RENANG TEMPAT GABY TENGGELAM


Kamis, 14 September 2017...

Pemeriksaan terdakwa guru olahraga Gaby hari ini digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat selama satu jam.

Berita terkait :

https://metro.tempo.co/read/909003/sidang-kasus-tenggelamnya-siswi-global-sevilla-periksa-terdakwa

https://www.gatra.com/hukum/284817-sidang-gaby-pengakuan-terdakwa-berbeda-dengan-di-bap 

Di akhir sidang, Hakim Ketua mengatakan "Sidang pemeriksaan terdakwa hari ini sudah cukup diambil keterangannya di pengadilan. Tetapi kami harus melihat langsung lokasi kejadian di kolam renang sekolah. Kami menjadwalkan sidang selanjutnya pada hari Senin, tanggaI 25 September 2017. Bu Jaksa, mohon konfirmasi ke pihak sekolah tempat Gaby tenggelam, bahwa akan ada pemeriksaan. Jadi ini sifatnya persidangan ya. Tapi persidangannya dilakukan di lokasi kejadian perkara. Nanti tanggal 25 September 2017 kita berkumpul dulu di ruang pengadilan. Kita buka sidang disini, lalu kita bersama2 ke lokasi kolam renang sekolah. Kami harus tinjau sampai ke lokasi kolam renang sebab terdakwa juga tidak ada saksi yang meringankan."



Sunday, September 3, 2017

ANDAI KU TAHU, KAPAN TIBA AJALMU...


Aku terduduk di kursi kerjaku. Kursi biru ini telah setia menemaniku selama hampir 7 tahun. Dalam setiap suka dukaku sejak awal merintis usaha kecil-kecilanku, kursi biru ini tidak pernah mengeluh saat ia harus menanggung bobot badanku dari pagi sampai malam. Di atas kursi biru ini, tanpa kusadari aku telah mengukir banyak sekali kenangan hidup, khususnya bersama anak-anakku.

Di atas kursi biru ini dulu aku sering memangku Gaby dan juga dede.
Di atas kursi biru ini aku sering menyuapi mereka makan sambil melayani pembeli.
Di atas kursi biru ini aku sering menemani Gaby membuat PR ( kadang PR Kumon, kadang PR les Mandarin, kadang PR sekolah ). Terkadang Gaby suka protes kalau dia lagi tanggung buat PRnya, tiba-tiba ada tamu datang sehingga mama menyuruhnya menunggu sebentar.

Di samping kursi biru ini Gaby dengan setia menemaniku, bahkan seringkali ia menungguku sampai jam kerjaku selesai.

Tak jarang Gaby tertidur di bangku sebelah kananku saat ia menungguku melayani pembeli yang datang membeli di waktu malam. Ya, jam kerjaku dulu memang sampai jam 8 malam. Aku memang sengaja mengatur jam kerjaku lebih panjang agar dapat menutup biaya sewa ruko yang lumayan tinggi. Namun demikian, aku masih tetap bisa bercengkrama dengan kedua anakku karena kami juga tinggal di ruko tempat usaha kami.

Di kursi biru ini aku sering memanjakan Gaby dan dedenya di sela-sela kesibukanku. Tak jarang pula aku mengecewakan mereka karena kesibukanku yang terkadang menyita konsentrasiku.

 

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan antara tempat kerja dengan tempat tinggal, dengan pertimbangan karena anak-anak kami sudah mulai besar dan mereka membutuhkan ruang lingkup bermain yang lebih nyaman. Sejak itu aku mulai membatasi jam kerjaku, dan lebih banyak menyerahkan pekerjaanku kepada staffku. Prinsipku adalah "Kalau anak-anakku pulang sekolah, aku juga harus pulang, karena sekarang tempat kerja sudah tidak gabung lagi dengan tempat usaha. Mereka akan kecewa bila pulang ke rumah ngga ada mamanya ( walaupun Amanya/ neneknya selalu stand by di rumah )."

Baru sekitar 1,5 tahun kami menikmati suasana tempat tinggal yang baru, Gaby mendadak kehilangan nyawanya saat mengikuti pelajaran renang wajib di sekolah karena tenggelam di kolam renang sekolahnya.

Kamis, 17 September 2015, pukul 09.11...

Di atas kursi biru ini, aku sedang googling mencari gambar-gambar untuk tugas Science Gaby tentang food groups yang akan dikumpul minggu depan. Tiba-tiba aku mendengar ponselku berdering.
Di atas kursi biru ini, aku menarik laci meja kerjaku.
Di atas kursi biru ini, aku menerima panggilan telepon masuk dari admin sekolah Gaby, yang menyuruhku bergegas datang ke rumah sakit.

Aku sempat berpikir "Jangan-jangan penipu yang mengaku-ngaku anakku sedang gawat." Ternyata teleponku diangkat oleh resepsionis yang membenarkan bahwa Gaby dilarikan ke rumah sakit. Namun saat aku bertanya "Siapa tadi yang nelpon saya ?" Resepsionis itu berkata "Sy kurang tahu. Mungkin Miss Kris.... kali."

Aku mulai deg-degan dan sedikit lemas. Aku lalu memberitahu papa Gaby via telepon dan papa Gaby menyuruhku langsung ke rumah sakit, nanti dia akan menyusul segera.

Staff ticketing yang duduk di sebelah kiriku ikut tegang menyaksikan keteganganku. Aku pun segera beranjak dari kursi kerjaku menuju rumah sakit.

Aku memang cukup dekat dengan anak-anakku, namun andai aku tahu bahwa salah satu anakku ( Gaby ) secepat itu pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku akan memilih untuk menghabiskan seluruh waktuku bersama anak-anakku.

Sayangnya waktu tidak bisa terulang kembali. Hanya kenangan yang akan selalu tersimpan dalam sanubari. Kini waktuku full aku gunakan untuk mendampingi si dede, sambil terus mendoakan Gaby supaya ia selalu bahagia di surga.

Secara iman aku percaya Gaby sudah bahagia di Rumah Bapa, tapi aku tetap mendoakannya karena aku mau Gaby tetap merasakan kasih sayangku. Sejak bayi Gaby paling senang kalau diperhatikan dan disayang-sayang mamanya. Kata-kata terakhirnya "Ma cium dulu" menyiratkan makna bahwa Gaby selalu mau jadi kesayangan mamanya... FOREVER....until we meet again !

Kata-kata "Ma cium dulu" itu pula yang memberi semangat dalam memperjuangkan sebuah kebenaran atas kasus kematiannya. Sesungguhnya kasih sayang sejati bukan diwujudkan dari sebuah ciuman, tapi dibuktikan oleh perbuatan kasih yang nyata. Kasih itu akan selalu bersemayam di dalam hati orang yang memilikinya dan hanya mampu dipahami oleh orang yang mengalaminya secara langsung.

Thursday, August 31, 2017

DIBALIK PROSES HUKUM KASUS KEMATIAN GABY


Beberapa minggu lagi adalah peringatan 2 (dua) tahun meninggalnya Gaby. Hampir dua tahun sudah papa dan mama mengawal kasus Gaby.

Sejak kasus Gaby masuk pengadilan, kami selalu hadir dalam sidang yang digelar. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, tak jarang kami terduduk di kursi tunggu pengadilan untuk menunggu perkembangan proses peradilan kasus kematian anak kami.

Kalau papa dan mama ditanya "Apakah papa Gaby ngga ada kerjaan ? Kok tiap minggu kerjanya nongkrong aja di pengadilan ?" Sesungguhnya pekerjaan papa Gaby cukup banyak. Beban ekonomi keluarga kami pun seluruhnya ada di pundak papanya Gaby. Namun setiap kali mama berkata "Kalau lagi sibuk biar eike sendiri saja yang pergi ke pengadilan." Papa Gaby selalu menjawab "Ngga ah. Aku juga mau datang ke pengadilan." Walhasil, mama tidak pernah hadir di pengadilan tanpa didampingi papa Gaby.

Sesungguhnya yang wajib hadir di pengadilan adalah terdakwanya, sedangkan orang tua korban tidak wajib hadir. Namun demikian kami akan tetap hadir meluangkan waktu kami untuk mengawal kasus Gaby mulai dari awal sampai akhir.

Kalau ada yang bertanya "Bagaimana menghadapi sidang kasus Gaby yang sering ditunda ?" Jawabannya "Kami akan tetap positif thinking, kami akan tetap menjalaninya dengan sabar sambil senantiasa menggantungkan harapan kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa."

Berita terkait :
https://www.gatra.com/hukum/281640-pn-jakarta-barat-tidak-serius-sidangkan-kasus-kematian-gaby



Monday, August 21, 2017

LAMPION TAHUN BARU KAMI...


Tanggal 31 Desember 2013, kami sekeluarga berencana melewatkan malam tahun baru di puncak secara sederhana. Itu merupakan rencana mendadak kami. Kami berangkat sekitar jam 3 sore, dan saat memasuki kawasan puncak, jalanan mulai macet. Kami pun lalu beristirahat di sebuah hotel dan malam harinya kami ikut compulsory dinner disana.

Acara compulsory dinner berakhir tengah malam, yaitu sesaat setelah detik-detik pergantian tahun berlalu. Sebelum kembali ke kamar masing-masing, para tamu hotel ( tiap kamar ) dibagikan kertas kecil untuk menuliskan harapan/ make a wish untuk tahun 2014 mendatang dan sebuah lampion untuk diterbangkan.
Saat itu mama menuliskan permohonan singkat, yang intinya kurang lebih sebagai berikut : "Semoga kami sekeluarga bahagia selalu dan senantiasa diberkati oleh Tuhan."

Setelah itu, di balkon depan kamar hotel, kami bersama-sama mulai membuka plastik pembungkus lampionnya dan menggantung kertas permohonan kami ke lampion, bersiap untuk segera menerbangkan lampion itu. Karena papa Gaby tidak merokok, saat itu kami tidak membawa korek api. Akhirnya kami meminjam korek gas dari penghuni kamar sebelah yang juga sedang menerbangkan lampion.

Akhirnya lampion kami pun berhasil diterbangkan bersama dengan puluhan lampion penghuni kamar hotel lainnya. Kami dengan gembira bertepuk tangan sambil terus memandang lampion kami yang naik perlahan-lahan sampai menghilang di ketinggian langit malam itu.

Seperti layaknya anak kecil pada umumnya, Gaby antusias sekali dalam menerbangkan lampionnya, sedangkan dede saat itu sudah mulai mengantuk. Saat itu mama berkata sambil menunjuk ke arah lampion kami "Bibie, dede, lihat tuh. Lampion kita yang terbangnya paling tinggi. Yeeee." Lalu Gaby berkata "Ia, yang punya kita terbangnya tinggi banget. Wah, itu ada lampion orang yang jatuh ma."

Mama jawab "Wah ia Bie. Untung Iampion kita terbang tinggi yah Bie. Udah mulai ngga keliatan lagi nih sekarang. Tuh udah berupa titik. Kecil banget karena tinggi banget. Semoga permohonan kita terbang tinggi sampai kepada Tuhan dan permohonan kita dikabulin sama Tuhan ya Bie. Untung hujannya berenti. Kalau masih hujan, kita ngga bisa terbangin lampionnya."

Dinginnya malam tahun baru saat itu disertai beceknya jalan akibat hujan deras sebelumnya, membuat kami dan para penghuni kamar lainnya segera masuk ke kamar setelah acara penerbangan lampion selesai.
Keesokan harinya, setelah selesai breakfast, Gaby melihat ada beberapa orang yang naik kuda berkeliling halaman hotel ditemani oleh petugas penjaga kudanya. Gaby lalu berkata "Gaby juga mau naik kuda." Akhirnya Gaby naik kuda ditemani petugas penjaga kudanya dan kami mengawasinya sampai satu putaran selesai.

*Hingga kini, mama masih ingat dengan jelas betapa lampion kita terbang tinggi. Lampion lain kebanyakan apinya padam pada ketinggian tertentu dan jatuh ke tanah, tapi lampion kita apinya tetap menyala dan terus naik ke atas. Mama percaya Tuhan mendengarkan permohonan kita dan rancanganNya akan selalu indah pada waktuNya. Saat ini Bibie terpisah dari kami hanya sementara. Suatu saat nanti karena belas kasihNya, kami akan berkumpul kembali dengan Gaby dalam kehidupan kekal di rumah Bapa. Kami akan senantiasa berjuang dalam doa dan harapan yang tidak putus-putusnya, sambil terus mengimani bahwa "GOD IS GOOD ALL THE TIME."

WALAU HANYA SEBUAH BAYANGAN...


Setiap kali mama cium dede, mama membayangkan lagi cium Gaby juga.
Setiap kali mama peluk dede, mama membayangkan lagi peluk Gaby juga.
Setiap kali mama mendoakan dede, mama mendoakan Gaby juga.
Setiap kali mama memfoto dede, mama membayangkan lagi memfoto Gaby juga.
Setiap kali mama melihat keceriaan dede dalam pelukan mama, mama berharap Gaby juga berbahagia dalam pelukan Bunda Maria dan Bapa di Surga.
Setiap kali mama nonton di bioskop sama dede, mama selalu menoleh ke bangku sebelah mama yang satunya lagi, karena biasanya kalau kita nonton bertiga, mama selalu duduk di tengah, sedangkan Gaby dan dede duduk di kanan kiri mama.
Setiap kali mama bilang "Mama sayang dede", mama juga akan bilang "Mama juga sayang Cie-cie Gaby."


Walaupun cie-cie Gaby sudah beralih dari dunia ini, mama ngga akan menghilangkan posisi cie-cie Gaby sebagai anak pertama mama. Bayangan Gaby akan mama peluk selamanya, sampai mama sendiri menjadi sebuah bayangan.

Saat hal itu terjadi, biarlah orang-orang yang masih berziarah di dunia ini membayangkan kita berdua saling berpelukan di Rumah Bapa. Amin.

Friday, July 28, 2017

Saksi Anak Tidak Hadir Setelah 3x Dipanggil, Rabu Depan Sidang Gaby Langsung Masuk ke Pemeriksaan Terdakwa

Papa Gaby memegang foto Gaby di depan Ruang Sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat


Hari ini, Rabu, 26 Juli 2017, sidang pidana kasus kematian Gaby kembali ditunda karena saksi anak sudah 3x dipanggil oleh JPU secara patut melalui surat resmi, namun ia tidak hadir memenuhi panggilan jaksa, tanpa memberikan alasan apapun.

Sebenarnya ada 3 orang saksi lagi selain 2 orang saksi anak, yang sudah di BAP oleh polisi tapi belum hadir di pengadilan, yaitu Saksi dari Suku Dinas Pendidikan, 1 orang Saksi dari Pihak Sekolah, dan Saksi Ahli Olahraga. 

Thursday, July 6, 2017

SIDANG PIDANA Ke-10 KASUS KEMATIAN GABY KEMBALI DITUNDA


Setelah menunggu hampir 1 (satu) bulan, sesuai jadwal yang ditetapkan pada persidangan sebelumnya, rencananya hari ini ( Rabu, 5 Juli 2017 ) akan digelar sidang ke 10 kasus kematian Gaby, namun sayangnya sidang hari ini kembali ditunda. 

Berita terkait :
https://www.gatra.com/hukum/272037-sidang-kasus-kematian-gaby-dinilai-berlarut-larut 

Sebelumnya, sidang ke 9 telah digelar pada Rabu, 7 Juni 2017 yang lalu, dimana dalam sidang tersebut hadir Dokter Forensik yang mengotopsi jenazah Gaby. Dari keterangan Dokter Forensik bulan kemarin, terungkap di Pengadilan Negeri Jakarta Barat bahwa penyebab kematian Gaby adalah karena tenggelam. 


Sampai sejauh ini, total saksi yang telah dihadirkan oleh JPU dalam persidangan kasus Gaby sebanyak 10 orang, yaitu :
Papa Gaby, Mama Gaby, Paman Gaby sebagai saksi lapor, Wali Kelas, Kepala Sekolah ( di BAP tercatat sebagai Koordinator Kurikulum ), Staff UKS, Staff Bagian Umum, Staff Umum yang mengurus perizinan sekolah, Dokter yang menerima Gaby sudah tidak bernyawa, dan Dokter Forensik.

Sesuai dengan BAP Kepolisian, masih ada 5 orang saksi yang perlu dihadirkan dalam persidangan Gaby, mereka adalah :
1. Staff Suku Dinas Pendidikan II Kota Adm Jakarta Barat
2. Staff Sekolah yang di BAP tercatat sebagai Kepala Sekolah
3. Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Keolahragaan
4. Saksi teman Gaby 1
5. Saksi teman Gaby 2

Sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, setelah semua saksi yang di BAP oleh Kepolisian memberi keterangan di hadapan Majelis Hakim, sidang dilanjutkan dengan :
- Pemeriksaan terdakwa,
- Tuntutan Jaksa,
- Pledoi,
- Putusan Akhir Majelis Hakim.

Kalau sidang berjalan dengan lancar dan saksi-saksi dapat hadir sesuai panggilan JPU, mungkin saat peringatan 2 tahun meninggalnya Gaby ( 17 September 2017 ) sudah ada putusan akhirnya. Namun harapan itu kembali kami serahkan pada kehendakNya.

Tanggal 25 Juni kemarin kami nonton film "Surat Kecil Untuk Tuhan". Film itu menceritakan suka duka Angel mengungkap kebenaran secara hukum atas hilangnya nyawa sang kakak ( Anton ).

Hikmah yang saya petik dari film itu adalah : "Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang apabila kita mau memperjuangkannya dengan gigih, dan apabila sesuai dengan kehendakNya."