Friday, January 22, 2016

Bibie, Mama Bersyukur dan Bangga Bisa Memiliki Gaby




Tanggal 19 September 2015 merupakan malam minggu yang paling kelabu dalam hidup saya, karena malam itu adalah malam kembang dan misa tutup peti Gaby, putri pertama kami yang tercinta, di rumah duka Abadi.
Misa Tutup Peti dimulai pukul 19.30 dan dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Romo Aloysius Susilo Wijoyo, PR.
Setelah misa, saya meminta waktu kepada Romo untuk menyampaikan perasaan saya tentang Gaby kepada tamu-tamu yang hadir saat itu.
Terus terang, saya bukan orang yang terbiasa berbicara di depan orang banyak, apalagi dalam suasana duka seperti itu. Namun saat itu suara hati saya mendorong saya untuk menyampaikan perasaan saya tentang Gaby kepada tamu-tamu yang hadir.
Saya merasa roh Gaby ada disana.
Menurut kebanyakan orang, roh orang yang meninggal dalam beberapa hari pertama masih berada di dekat jenazahnya.Oleh karena itu, banyak orang memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dengan berdoa di dekat jenazah.
Perasaan saya malam itu begitu kuat, yaitu bahwa Gaby sedang berada di tengah-tengah kami, dan dia bisa melihat kami yang sedang berkumpul untuk mendoakannya. Maka, saya memaksakan diri untuk menyampaikan kesan dan kebanggaan saya bisa menjadi Mama Gaby.
Saya mau Gaby tersenyum bahagia melihat saya mengatakan kepada tamu-tamu yang hadir untuk yang terakhir kalinya, betapa saya sangat menyayanginya, betapa berartinya Gaby dalam hidup kami, dan betapa bahagianya saya bisa menjadi mama Gaby. Walaupun hanya 8 tahun saya hidup bersamanya di dunia ini, namun kasih sayang saya kepadanya tidak akan hilang untuk selamanya.
Intinya saya mau bilang “BIBIE, MAMA BERSYUKUR DAN BANGGA SUDAH MEMILIKI GABY. APALAGI PAS MAMA TAHU KALO BIBIE TERNYATA TENGGELAM KARENA NIAT MAU TOLONGIN TEMEN. MAMA BAHAGIA KARENA BIBIE SUDAH MENELADANI YESUS YANG PENUH CINTA KASIH DAN RELA BERKURBAN.”
Saya yakin, bagi seorang anak seperti Gaby, yang terpenting baginya adalah : papa mamanya tahu kronologi kejadian tenggelamnya seperti apa. Dan apa yang menyebabkannya bisa tenggelam.
Mungkin roh Gaby mau bercerita kepada kami gimana ceritanya dia bisa sampai tenggelam. Namun sayang kami sudah tidak bisa lagi mendengar suaranya karena alam kita sudah berbeda.
Untungnya, papa dan mama sudah mengetahui cerita yang sebenarnya kenapa Gaby bisa tenggelam, dari keterangan mommy dan teman-teman Gaby. Mungkin itu bisa memberikan sedikit ketenangan buat arwah Gaby.
Sebelumnya, Gaby dan saya sudah menyusun banyak sekali rencana untuk hari esok. Gaby mau makan pudding love buatan mama sepulang sekolah, Gaby mau les renang hari Jumat ( sehari setelah tanggal kematiannya ), Gaby mau ikut mama ke Reuni Akbar di sekolah mama, Gaby mau makan Ikkudo Ichi di Mal Puri, dan minta dibeliin Puding Puyo. Namun semua rencana itu hanyalah tinggal rencana yang tidak akan pernah terealisasi.
Kejadian yang menimpa Gaby ini, menyadarkan saya bahwa hidup benar-benar sementara. Anak yang 8 tahun lalu saya lahirkan, sekarang sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk kembali kepada penciptaNya.
SECARA DUNIA, KEMATIAN GABY SANGAT TRAGIS DAN MEMILUKAN.
NAMUN SECARA ROHANI, ADA KEBAHAGIAAN TERSENDIRI jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam, yaitu bahwa Gaby ternyata MEMILIKI CINTA KASIH DAN HATI YANG TULUS.
Inilah hidup. Begitu banyak hal yang bisa terjadi diluar kemampuan kita.
Gaby yang begitu sehat, lincah, energik, ceria, memiliki semangat hidup yang tinggi, dan baru mulai belajar untuk menjadi anak yang mandiri, secara tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini.
Semoga dengan kejadian ini, kita bisa lebih menghargai hidup, dan lebih menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita ( suami, istri, anak-anak, orang tua, family, teman, dll. ). Sebab kita tidak akan pernah tahu apakah itu akan menjadi hari terakhir kita dapat bersama mereka. Entah hidup kita yang akan berakhir, entah hidup mereka yang akan berakhir.
Hidup ini kadang jalan ceritanya sulit dimengerti dan penuh dengan dinamika naik turun. Kadang kita merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna, namun kadang kita mengalami kepahitan hidup yang sangat mendalam.
HANYA RELASI YANG BAIK KEPADA TUHAN YANG DAPAT MEMBUAT KITA TETAP KUAT DALAM MENGHADAPI SEGALA KEPAHITAN HIDUP INI.

Banyak perkara
Yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi
Didalam kehidupan ini
Satu perkara
Yang kusimpan dalam hati
Tiada satupun kan terjadi
Tanpa Allah perduli
Allah mengerti, Allah perduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
ku bergumul sendiri
Sbab Allah mengerti.

Dalam Mimpi Saya, Gaby Terangkat ke Atas Perlahan-lahan, Makin Lama Makin Tinggi


DIA TERTAWA LEPAS DAN TERUS MELAMBAIKAN TANGANNYA KEPADA KAMI DENGAN PENUH SEMANGAT.



Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Suster Briege McKenna, OSC ; para Romo dan Suster ( khususnya di wilayah Keuskupan Agung Jakarta dan Tangerang ), kelompok Legio Maria Gereja St. Matias Rasul, teman-teman lingkungan Cornelius, tim pendoa di SOS line Doa, saudara-saudari seiman maupun yang tidak seiman ( yang turut mendoakan Gaby dengan kepercayaan iman masing-masing ), baik yang kami kenal maupun kami tidak kenal, yang mengenal Gaby maupun yang tidak mengenal Gaby, yang selama ini telah bersimpati dan sudah berbaik hati dengan tulus mendoakan ketenangan jiwa Gaby dan mendoakan kelancaran proses hukum Gaby.
Kami sangat menghargai dukungan dan doa-doa dari Romo, Suster, dan saudara-saudari semua, dan semoga Tuhan membalas ketulusan hati Romo, Suster, dan saudara-saudari sekalian dengan rahmat yang berlimpah.
Kita yakin bahwa kekuatan doa dapat mengubah segalanya, dan tidak ada doa yang menjadi sia-sia.
Di hari ke 127 kepergian Gaby ini, saya kembali lagi memimpikan Gaby dan saya ingin membagikan cerita saya kepada teman-teman sekalian.
Sebelumnya, di hari ke 104 sejak kepergiannya, sy pernah bermimpi mencium pipi Gaby dan Gaby mengatakan "Mama, papa, ama, Bibie tuh ada disini. Bibie bisa lihat mama, papa, ama disini. Mama, papa, ama memang ga bisa liat Bibie, tapi Bibie ada. Kalau mama, papa, ama inget sama Bibie, Bibie ada. Bibie tau mama, papa, ama selalu inget sama Bibie."
Namun mimpi saya kali ini semakin luar biasa.
Dalam mimpi itu, saya sedang bermain bertiga dengan Gaby dan dedenya di halaman sebuah rumah ( saya tidak tahu itu di rumah siapa, yang pasti bukan di rumah kami ). Tidak jelas kami bermain apa, tapi kami bertiga duduk di lantai teras rumah itu.
Tiba-tiba Gaby berdiri, lalu DIA MEMBUAT TANDA KEMENANGAN KRISTUS ( TANDA SALIB ) dan BADANNYA TERANGKAT KE ATAS PERLAHAN-LAHAN, MAKIN LAMA MAKIN TINGGI.
Gaby MELAMBAIKAN TANGAN kepada saya dan dede dengan PENUH SEMANGAT sambil TERTAWA LEPAS, seolah-olah ia mau pergi ke suatu tempat yang sangat dia sukai, dan karenanya dia happy banget.
Dalam mimpi itu, saya dan dede memandang Gaby sambil bengong dan bingung dengan kejadian yang ada di depan mata kami, sementara Gaby terus naik keatas menuju langit biru sambil terus melambaikan tangannya dengan semangat dan terus terlawa lepas hingga menghilang dari pandangan kami. Gaby tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam mimpi tadi, tapi saya merasa Gaby mau bilang "Bye dede, bye mama. Bibie mau ke surga dulu ya." Dan setelah itu saya terbangun dari tidur.
Dalam mimpi itu, saya bisa merasakan kesedihan karena ditinggal Gaby terbang ke angkasa. Tapi kesedihan itu terobati dengan melihat Gaby yang penuh sukacita dan tertawa lepas, dan sangat semangat sekali melambaikan tanggannya kepada kami.
Mimpi yang membuat saya kembali terharu dan bahagia. Walaupun hanya sekedar mimpi, mungkin itu cara Tuhan untuk menghibur saya. Mungkin Tuhan mau bilang kepada saya "Jangan khawatir Vera, Gaby sudah bahagia bersamaKu."
Terima kasih sekali lagi atas dukungan doa dari Romo, Suster dan saudara saudari sekalian untuk Gaby selama ini, sehingga doa-doa kita telah membantu mengantar Gaby memperoleh kebahagiaan abadi di Surga.
Kebahagiaan Gaby adalah kebahagiaan saya. Kalo Gaby sudah bahagia, pasti saya ikut senang.
Wujud nyata dari kasih yang tulus adalah ikut berbahagia melihat orang yang kita kasihi memperoleh kebahagiaan, walaupun kita sendiri tidak bisa lagi hidup bersamanya.
Bila kita percaya dan beriman kepadaNya, kita tidak perlu takut lagi bila suatu saat kita harus berhadapan dengan yang namanya kematian. Sebab ada tertulis :
"Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." ( Yoh 11:25 ).
"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." ( Yoh 14 : 2).
Tak usah kutakut, Allah menjagaku
tak usah kubimbang, Yesus p'liharaku
Tak usah kususah, Roh Kudus hiburku
Tak usah kucemas, Dia memberkatiku.
Amin.

Thursday, January 21, 2016

KATA-KATA TERAKHIR GABY “MA, CIUM DULU.”


KATA-KATA TERAKHIR GABY “MA, CIUM DULU.”


SETELAH ITU WAKTU SEAKAN TERHENTI SEPERTI DALAM PENGARUH TOMBOL “PAUSE.”


Pagi itu, Kamis tgl 17 September 2015 pukul 05.45, seperti biasa saya membangunkan Gaby dari tidurnya dengan mencium pipi dan dagunya ( saya suka dengan bentuk dagu Gaby yang cantik ). Gaby lalu bangun tidur dengan manis (sudah gampang dibangunin ) dan langsung menuju kamar mandi untuk saya mandikan seperti biasanya. Setelah Gaby selesai mandi, baru giliran dede yang saya mandikan.
Setelah semua berseragam rapi, saya menanyakan kepada Gaby mengenai tugas yang tertulis di agendanya, tentang Food Groups ( dairy foods, fruit and vegetables, carbohydrate, protein ( fish and meat ), fat and sugar.
"Bie, nih kemarin malem mama udah guntingin gambarnya dari majalah, bener ga gambarnya kayak gini ?" tanya saya kepada Gaby mengenai tugasnya yang harus dikumpul Selasa depan ( 5 hari lagi ).
Jawab Gaby "Yang ini bener. Yang ini gambarnya kegedean ma. Yang gambar nasi ini digunting aja ma. Nasinya masuk ke carbohydrate, yang gambar ayam bakarnya masuk ke protein. Ma, kata miss, gambarnya ngga boleh gede-gede, dan gambarnya ngga boleh hitam putih, harus berwarna. Nanti ditempel di karton HVS kayak yang di buku Science."
Mama jawab "ok, ntar mama cariin deh di internet, diprint warna."
Lalu Gaby bertanya "Mama selalu bantuin tugas Bibie emangnya mama selalu mau Bibie dapet nilai excellent ya ?"
Jawab mama "Ia lah Bie. Mama kan sayang Bibie." Dan Gaby tersenyum nyengir ke mama.
Di mobil dalam perjalanan ke sekolah, Gaby berkata "Ma jangan lupa ya nanti bikinin Bibie puding love." Mama jawab "Ok boss. Ntar pas pulang sekolah Bibie buka kulkas pasti udah ada puding lovenya, ok ?"
Setelah sampai di sekolah ( pukul 07.20 ), mama anter Gaby dan dede ke tangga depan. Gaby berkata lagi "MA, CIUM DULU." Seperti hari-hari sebelumnya, tanpa diminta pun sy selalu mencium Gaby dan dedenya sebelum masuk kelas. Tapi kata-kata “MA, CIUM DULU” ternyata menjadi kata-kata terakhir Gaby kepada saya.
Setelah saya cium kedua anak saya, mereka menaiki tangga dan saya mengawasi sampai mereka hilang dari pandangan saya.
Seperti biasa saya langsung menuju kantor. Setelah buka kantor ( pukul 08.00) saya ke pasar belakang untuk beli cetakan puding pesanan Gaby. Setelah itu saya balik ke kantor dan browsing google mencari gambar-gambar Food Groups untuk tugas Gaby.
Belum selesai mencari gambarnya, hp saya berdering ( pukul 09.11), dan suara di seberang sana berkata "Miss, bisa ke Rumah Sakit Puri sekarang. Gaby sakit."
Langsung saya jawab " ORANG GABY SEHAT KOK. DIA NGGA SAKIT. Kenapa memangnya ? GABY TENGGELAM YA ?".
Suara ditelpon menjawab "Segera dateng aja miss ke Rumah Sakit. Sekarang ya !"
Saya menjawab "Rumah sakit atau UKS ?" Saya masih tidak kepikiran sampai segawat itu Gaby sampai harus dibawa ke rumah sakit, sebab pihak sekolah tidak mengatakan yang sebenarnya kepada kami.
Saya langsung hubungi papa Gaby yang belum sampai kantor. Papa Gaby bilang saya duluan aja langsung ke Rumah Sakit, jangan tunggu papa Gaby. Takut kalau Gaby dalam keadaan gawat.
Saya langsung berangkat dengan hati was-was dan sedikit lemas, serta hati harap-harap cemas. Di jalan saya terus panggil-panggil Gaby sambil nyetir “Bibie kenapa Bie ? Mama sayang Bibie. Tuhan Yesus tolong Gaby.”
Sayangnya jalanan macet parah, jadi perjalanan saya serasa lama sekali. Dalam perjalanan hp sy berbunyi lagi “Miss sudah sampai mana ? Langsung ke Emergency room ya.”
Sampai di rumah sakit, langsung saya berlari ke Emergency Room. Saat saya tiba di Emergency Room, sy lihat hanya ada guru UKS di sekolah itu sedang menemani Gaby di Emergency Room yang terlihat bingung. Sementara dokter sibuk mengupayakan pertolongan untuk Gaby.
Gaby sudah terbaring tidak bergerak dengan mengenakan baju renang. Kacamata dan topi renang masih terjuntai di dekat Gaby. Terlihat banyak kantung-kantung penampungan yang berisi air kolam bercampur darah Gaby. Bibirnya sudah membiru. “Ya Tuhan. Apa saya mimpi ?” batin saya bertanya.
“Bibie, Bibie, kenapa Bie ? Kenapa jadi begini Bie ? Bangun Bie. Mama sayang Bibie. Mama sayang Bibie. Bie, mama sayang Bibie. Bibie bangun dong Bie.” teriak saya spontan sambil memeluk Gaby.
“Tuhan Yesus, tolong Gaby. Tuhan Yesus tolong Gaby.” saya berteriak tak henti-hentinya sambil memeluk Gaby.
Kemudian papa Gaby tiba, dan langsung berteriak sambil menangis memeluk Gaby “Aduh Bie. Jangan tinggalin papa Bie. Bangun Bie. Papa sayang Bibie. Kenapa bisa jadi begini Bie ? Tuhan Yesus tolong Gaby. Tuhan Yesus tolong Gaby.”
Setelah beberapa menit dokter melakukan tindakan tapi tidak ada hasil, akhirnya dokter berbisik di telinga saya “Yang sabar ya bu. Gaby sudah ngga ada. Sebenernya sejak sampai di rumah sakit tadi Gaby sudah ngga ada. Cuma kita tetep coba upayakan memberikan tindakan. Tapi tetep ngga ada hasil. Sabar ya bu.”
Seperti mimpi di siang bolong rasanya saat itu. Antara percaya dan ngga percaya. Terjadi begitu saja diluar kemampuan saya. Tapi anehnya ada dorongan dari dalam hati saya yang mengatakan bahwa Gaby tidak mati. Jiwa Gaby masih ada disana dan mungkin sedang melihat kami papa mamanya. Mungkin itu cara Tuhan menguatkan iman saya.
Hati saya sebagai mama yang sudah mengandung, melahirkan, membesarkan, mendampinginya belajar dan buat PR, mengantar jemput sekolah dan les sangat-sangat hancur. Tapi saya berpikir, saat ini yang terpenting buat Gaby adalah doa, bukan tangisan. Bukankah doa seorang ibu kepada anaknya sangat besar kuasanya ? Dan surga ada di telapak kaki ibu ? Kewajiban saya sebagai mamanya yang sangat menyayanginya adalah terus mendoakan Gaby supaya dia senantiasa diliputi kebahagiaan abadi di Surga.
Saya membisikkan ke telinga Gaby : doa Bapa Kami ( doa yang juga saya panjatkan saat di ruang operasi Caesar 8 tahun lalu saat melahirkan Gaby ), Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya. Saya percaya Gaby sudah aman bersama Yesus dan Bunda Maria. Namun saat itu kesedihan tetap melanda saya jauh sampai ke lubuk hati saya yang paling dalam, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa memahaminya.
Untungnya saya sadar bahwa cara yang tepat untuk menyayangi anak kita yang telah pulang ke rumah Bapa bukanlah dengan cara terus menangisi dan meratapi kepergiannya, tapi dengan cara terus mendoakan dan mengenangnya seumur hidup kita.
Selamat jalan Gaby. Mama dan papa akan selalu menyayangi Gaby. Mama dan papa akan selalu bangga dan bersyukur kepada Tuhan, sudah diberikan anak sebaik Gaby. Maafkan mama dan papa bila kadang membuat Gaby sedih. Mama dan papa akan selalu mendoakan Gaby sampai nanti kita berkumpul kembali dalam kerahiman Allah. Terima kasih Gaby sudah jadi anak mama papa yang hebat.
Sampai ketemu lagi Gaby. Tungguin papa mama ya, suatu saat papa mama juga akan menyusul Bibie. Jangan sedih ya Bie, sebab Yesus akan memberikan kebahagiaan lebih dari yang papa dan mama sudah berikan buat Bibie.
Tuhan Yesus beneran hebat kan Bie ? Surga beneran indah kan Bie ?
Pasti Bibie sudah jawab "ia ma." tapi sayangnya mama ga bisa denger.

Monday, January 18, 2016

HIDUP adalah SEBUAH PILIHAN


SELALU UTAMAKAN TUHAN DALAM SETIAP PILIHAN KITA, SEBAB HANYA TUHAN YANG TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN.



Setiap orang tua pasti cenderung untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan iman yang mereka anut masing-masing.


Setiap agama selalu mengajarkan kebaikan bagi para pemeluknya. Jadi sekolah berbasis agama tentu akan menghasilkan generasi penerus yang memiliki pondasi iman yang baik. Pondasi iman yang baik akan menjadikan seseorang memiliki moral yang baik pula. Bukankah moral yang baik sangat penting dalam praktek hidup bermasyarakat dan bernegara ?


Dalam lubuk hati yang terdalam, sebagai seorang Katholik, pastinya saya lebih suka menyekolahkan anak di sekolah Katholik ( sesuai dengan iman saya ). Begitu juga dengan saudara saudari kita lainnya yang menganut agama lain, pasti lebih suka menyekolahkan anak-anaknya sesuai dengan ajaran iman mereka masing-masing.

Keinginan itu diperkuat dengan latar belakang pendidikan saya, dimana sejak TK - SMU saya juga mendapat pendidikan di sekolah Katholik. Namun dalam menentukan pilihan untuk masa depan anak, pasti saya harus bermusyawarah dengan suami. Suami saya juga seorang Katholik dan juga bersekolah di sekolah Katholik.

Pertimbangan bahwa kami tidak terlalu menguasai Bahasa Inggris, membuat papa Gaby ingin melihat anaknya jago berbahasa Inggris. Seperti pepatah "Bapaknya tukang becak, kalau bisa anaknya jadi dokter."

Papa Gaby adalah sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya. Selama ia masih mampu bekerja keras mencari uang, ia akan selalu memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Hidupnya dipersembahkan sepenuhnya untuk kebahagiaan anak-anaknya (istrinya kecipratan sedikit sih ).

Latar belakang itulah yang menyebabkan kami memutuskan untuk menyekolahkan anak-anak kami di sekolah berlabel Internasional yang berbasis Bahasa Inggris ( lebih tepatnya itu keputusan papa Gaby, sebab sejujurnya saya takut melihat biayanya yang mahal ).

Selain takut karena biaya mahal, ada ganjalan dalam hati saya atas keputusan itu. Suara hati saya berbicara kenapa sih ngga pilih sekolah Katholik saja ? Saya juga teringat kata-kata Alm. Romo Widodo, OCarm ( Romo yang memberikan Sakramen Pernikahan kami di gereja MBK pada Juli 2005 ). Dalam khotbahnya beliau mengatakan : "Mendidik anak secara Katholik tidak harus masuk ke sekolah Katholik yang harganya tidak terjangkau ( 10 tahun yang lalu sekolah Katholik termasuk relatif mahal )." Disitu saya berpikir, bila dibandingkan dengan sekolah Internasional, tentu sekolah Katholik ( yang kebanyakan adalah sekolah Nasional ) jauh lebih murah biayanya. Langsung teringat iklan "Kalau ada yang lebih murah dan bagus, kenapa harus bayar lebih mahal ?" Namun kembali lagi ke visi dan misi papa Gaby, akhirnya keluarlah keputusan untuk menyekolahkan Gaby dan adiknya di sekolah berlabel Internasional ( selama masih kuat bayar ), dengan tujuan awal : supaya jago Bahasa Inggris. Karena yang bayar uang sekolahnya juga papa Gaby, keputusan lebih banyak di tangan papa Gaby sebagai kepala keluarga. Semua orang tua pastinya senang bila bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Namun semua harapan itu musnah seketika bagaikan dihantam air bah. Tanggal 17 September 2015 jam 09.00, masa depan itu berakhir di kolam renang sekolah.

Memang hidup itu sebuah pilihan. Hendaknya dalam setiap pilihan kita selalu mengutamakan Tuhan diatas segala-galanya, sebab manusia bisa mengecewakan, hanya Tuhan yang tidak pernah mengecewakan kita. Amin.

HORE, GABY SUDAH TIDAK OMPONG LAGI !


Saat umur 2,5 tahun ( baru 2 bulan punya dede ), Gaby sering bolak balik masuk ke kamar mandi. Alasannya mau cuci tangan, padahal dia mau main air. Sudah dibilangin ga boleh lari-lari kalau keluar dari kamar mandi, tapi Gaby kecil tetep aja lari-lari. Suatu sore, Gaby lari keluar kamar mandi dan terjatuh nyungsep dengan gigi depannya (yang bagian atas) mendarat duluan di lantai. Bibirnya berdarah dan gigi depannya retak. Sejak itu, gigi depan yang retaknya semakin hari semakin pendek, dan lama kelamaan tinggal sisa akarnya saja. 

Setiap kali orang melihat Gaby sering berkata "Cantik-cantik kok giginya hilang ? Kemana giginya yang depan ?" Dan Gaby selalu sebel dibilang begitu. Mama selalu bilang "Makanya Bibie jangan suka lari-lari lagi ok ? Nanti juga numbuh giginya. Tunggu aja"

Setiap orang yang mengenal Gaby, pasti akan teringat dengan gigi depannya yang ompong. Itulah ciri khas Gaby.

Kalau ke gereja mama suka berpesan "Bibie berdoa sama Yesus ya, minta supaya gigi ompongnya cepet tumbuh."

Karena gigi depannya ngga tumbuh-tumbuh juga, akhirnya pas Gaby umur 6,5 tahun, akar gigi depannya itu dicabut. Gaby teriak-teriak ketakutan saat diajak ke dokter gigi langganan mama. Kata papa dan mama "Gaby akar giginya harus dicabut supaya giginya bisa tumbuh. Kalo ngga dicabut akarnya, giginya ngga numbuh2. Gaby mau ompong terus ? Gaby mau cantik ngga ?" Akhirnya Gaby mau dicabut juga akar giginya karena mau cantik katanya, tapi duduk di bangku dokter giginya sambil dipangku mama.

Sejak akar gigi depannya dicabut, Gaby selalu menantikan giginya tumbuh. Setelah berbulan-bulan tidak tumbuh juga, Gaby bertanya "Sampai kapan ma gigi Bibie ompong terus ? Kok ga numbuh-numbuh. Katanya kalo udah dicabut akarnya bisa cepet tumbuh. Emang bener Yesus bisa tumbuhin gigi Bibie ?"

Mama menjawab "Yesus kan hebat Bie, orang buta aja bisa melihat. Orang lumpuh bisa berjalan, orang mati bisa hidup lagi, apalagi cuma gigi ompong, pasti bisa ditumbuhin sama Yesus. Sabar aja. Nanti kalo udah numbuh ga boleh lari-lari lagi. Nanti kalo gigi aslinya yang retak ngga bisa numbuh lagi lho. Nanti pakai gigi palsu lagi."

Selama menantikan gigi depannya tumbuh, Gaby selalu berdoa memohon kepada Yesus supaya giginya cepet tumbuh. Terlampir doa yang ditulis Gaby tentang giginya.

Gaby sering bertanya “Ma gimana kalo gigi Bibie ngga tumbuh-tumbuh. Malu dong ompong terus. Kalo numbuhnya pas secondary gimana ya, lama banget. Udah lama aku ompong nih. Katanya kalo akarnya udah dicabut bisa cepet tumbuh giginya. Kok ngga tumbuh-tumbuh ? Kalo ngga tumbuh selamanya gimana ma ?”

Mama menjawab “Pasti tumbuh Bie. Berdoa aja supaya giginya bisa cepet tumbuh.”
Sayangnya, kalo Gaby lagi nakal, mama sering bilang “Bie, kalo nakal nanti giginya ngga tumbuh-tumbuh lho.” Dan Gaby sangat ketakutan kalo giginya benar-benar tidak akan tumbuh.
Maafin mama ya Bie sudah nakut-nakutin Bibie. Mama nyesel ngomong begitu ke Bibie.
Saat bulan Februari 2015, di pagi hari saat Gaby sedang berkaca di kamar, Gaby teriak-teriak dengan girang ke mama “Ma, gigi Bibie udah numbuh nih. Udah keluar sedikit. Liat nih ma.”
Mama menjawab “Tuh kan akhirnya tumbuh juga. Kalo udah begini mah cepet. Ngga lama lagi juga gede giginya kayak yang di sebelahnya. Akhirnya Bibie ngga ompong lagi Bie. Jadi tambah cantik deh Bibie.”

Gaby menjawab “Yesus beneran hebat ya ma. Dia udah tumbuhin gigi Bibie.”
Selama 5 tahun Gaby berharap agar gigi depannya cepat tumbuh dan tidak ompong lagi, dan akhirnya harapannya terkabul.

Sayangnya, baru 7 bulan Gaby terbebas dari ompong, nyawanya harus hilang di kolam renang sekolahnya saat pelajaran renang wajib di tgl 17 September 2015.

Tapi masih beruntung Gaby masih bisa merasakan kebahagiaan terbebas dari ompong dan memiliki gigi yang utuh selama 7 bulan terakhir, sebelum ia menghadap Bapa di Surga.

Sejak gigi depannya tumbuh, Gaby semakin percaya kalo Yesus itu hebat.

Semoga pengalaman iman seorang anak kecil yang simple, yang dialami Gaby bisa membuatnya semakin dekat dengan Bapa di Surga.

Gaby bisa kembali kepada Bapa di Surga dengan gigi yang utuh ( tidak ompong ).

Amin.

Monday, December 14, 2015

Gabriella Life's Journey


This slide is made to remembering our beloved daughter
GABRIELLA SHERYL HOWARD (8 years old , grade 3)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Slide ini dibuat untuk mengenang putri kami tercinta 
GABRIELLA SHERYL HOWARD ( 8th, kelas 3 SD )

Slide ini berisi perjalanan hidup Gabriella mulai dari masa bayinya hingga kepergiannya meninggalkan dunia ini.