Monday, February 8, 2016

Hari Kedua Gaby di Rumah Duka


Jumat, 18 September 2015
Saya dan papa Gaby tiba di rumah duka sekitar pukul 09.30. Saya lalu menyiapkan foto Gaby untuk diletakkan di depan peti jenazah dan di depan pintu masuk rumah duka. Award Gaby juga saya tempel di meja dekat foto. Barang-barang kesayangan Gaby saya masukkan ke dalam peti jenazah.
Mengapa saya memasukkan barang-barang kesayangan Gaby ke peti jenazah ?
Karena barang-barang itu kami belikan special untuk Gaby, dan Gaby sangat menyukainya semasa hidupnya. Menyimpan barang-barang kesayangan Gaby di rumah hanya akan menambah luka hati saya, sebab batin ini pasti akan selalu berkecamuk bila memandang barang kesayangan Gaby sementara menyadari kalau dirinya sudah tiada. Hanya ada beberapa barang kesayangan Gaby yang masih tersisa di rumah. Kalau baju dan buku-buku Gaby, serta tumpukan tas lesnya masih seperti posisi semula. Saya tidak merubah posisinya sama sekali. Bahkan beberapa baju Gaby kini sudah bisa dipakai oleh Chelsea.
Saat hari mulai siang, tamu-tamu mulai berdatangan untuk melihat jenazah Gaby dan mendoakannya. Siang itu, hampir semua mommy-mommy dari sekolah Gaby datang melayat ke rumah duka ( mulai dari mommy yang anaknya duduk di Kindergarten sampai Secondary ), baik yang saya kenal maupun yang belum saya kenal.
Selain itu hadir juga mommy-mommy dari teman-teman Gaby sewaktu bersekolah di TK.
Kemudian lebih siang lagi, hadir serombongan guru-guru sekolah tempat Gaby tenggelam, beserta direktur sekolahnya. Hanya guru olahraga dan pemilik sekolah yang tidak pernah hadir, mulai dari rumah duka sampai proses pemakaman selesai.
Menjelang sore hari ( sekitar pukul 14.15 ), seorang Prodiakon dari Paroki kami beserta seorang temannya hadir dan mendoakan Gaby. Kami bertiga berdoa Rosario dan Doa Koronka Kerahiman Illahi di samping peti jenazah Gaby. Menurut iman Katholik yang kami anut, sangat baik untuk melakukan Doa Koronka Kerahiman Illahi yang didoakan tepat pukul 15.00, karena pada jam itulah Pintu Kerahiman Illahi akan terbuka bagi semua orang yang mendoakannya ( jam 3 sore sesuai dengan jam wafat Yesus ). Dengan Doa Koronka Kerahiman Illahi, kami berharap Allah Bapa membukakan pintu Surga untuk Gaby dan memperkenankan jiwa Gaby masuk ke dalam KerahimanNya.
Sementara itu sejak siang hari, beberapa wartawan terlihat sibuk meliput berita tentang tenggelamnya Gaby. Mereka juga meliput kedatangan Ketua KomNas Perlindungan Anak Bapak Arist Merdeka Sirait beserta rekan-rekannya yang juga hadir untuk melihat jenazah Gaby dan mendoakannya.
Sore harinya hadir guru les mandarin Gaby, guru les renang Gaby, beberapa teman sekolah dan teman kuliah saya, serta teman-teman dan keluarga besar dari papa Gaby.
Pada pukul 19.30 diadakan misa arwah untuk Gaby dibawakan oleh seorang Romo dari Kongregasi Ordo Christ Passion. Setelah misa arwah selesai, tim pendoa Legio Maria dari Paroki Gereja kami berkumpul dan berdiri di sekeliling peti jenazah Gaby untuk Berdoa Rosario. Betapa bahagianya Gaby karena banyak sekali orang yang mendoakannya.
Tidak terasa tamu-tamu di hari itu terus berdatangan silih berganti hingga larut malam.
Terima kasih untuk Romo, Bapak Ibu, Mommy-Mommy, Guru-Guru, Saudara-Saudari dan Teman-Teman sekalian yang telah meluangkan waktunya untuk hadir dan mendoakan Gaby mulai dari rumah duka sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Semoga Tuhan senantiasa melimpahi kita dengan rahmatNya yang berlimpah.
Amin.

Bunda Maria Teladan Hidupku



( sharing ini berdasarkan iman Katholik yang saya anut )
Kamis malam, tanggal 17 September 2015, sekitar pukul 23.30
Malam itu adalah malam yang paling berat dalam hidup saya, dimana di pagi harinya Gaby tewas tenggelam di kolam renang sekolahnya, dan di malam hari itu jenazahnya sudah terbaring di dalam peti jenazah di rumah duka.
Setelah selesai mengumpulkan barang-barang Gaby, saya mengurungkan niat untuk kembali ke rumah duka pada malam itu, sebab Chelsea terlihat sangat gelisah tidurnya pada malam itu.
Ketika saya memutuskan untuk menemani Chelsea tidur di sampingnya, batin saya kembali berkecamuk. Dalam kesendirian di malam itu, rasa duka di hati saya terasa menusuk sangat dalam.
Saya kemudian bangun dan memandang tempat tidur Gaby di sebelah kamar saya yang connecting dengan kamarnya ( kamar Gaby dan saya bisa tembus, hanya dibatasi pintu geser ).
Saya mengenang malam sebelumnya, dimana Gaby masih terbaring tidur di tempat tidur itu dengan pulas.Pagi harinya pun saya masih membangunkan Gaby dari tidurnya di atas tempat tidur itu. Sekarang tempat tidur itu menjadi kosong. Selimut hello Kitty yang sering dipakainya kini tetap terlipat rapi di atas tempat tidurnya.
"GABY MAMA BENER-BENER NGGA PERCAYA GABY SUDAH TIDAK ADA LAGI DI DUNIA INI.
Mengapa terjadi kepada dirimu ? Aku tak percaya kau telah tiada !
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia ? Agar aku dapat berjumpa denganmu."
Di malam yang berat itu, sudah pasti saya tidak bisa tidur. Dalam kegalauan hati saya yang rasanya jauh lebih dalam daripada patah hati, saya memutuskan untuk berdoa.
Malam itu, entah mengapa saya terdorong untuk berdoa Rosario ( sesuai iman Katolik saya ). Saya cari Rosario milik Gaby yang waktu itu dibelikan papanya dari hasil Ang Pao Imlek tahun 2015 kemarin. Lalu saya ambil foto Gaby yang di Kidzania ( foto close up terbarunya yang diambil tgl 16 Agustus 2015 ). Saya mulai berdoa disamping Chelsea yang saat itu mulai tertidur pulas.
Derai air mata mulai tertumpah, makin lama makin deras. Kalau tadi siang kesedihan itu tidak begitu jelas terasa sebab saya masih sibuk berinteraksi dengan orang-orang, namun malam itu adalah puncak kesedihan saya.
Dalam keterpurukan saya malam itu, Tuhan kembali menguatkan saya dengan cara yang luar biasa.
Saat saya mendaraskan Doa Rosario sambil memandang foto Gaby, tepatnya saat saya mengucapkan "Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah Buah Tubuhmu, Yesus." Saya berhenti sejenak mencoba menghayati kalimat itu.
Saya mencoba menghayati kenapa Bunda Maria dikatakan penuh rahmat ( sesuai dengan perkataan malaikat Gabriel saat menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus ), lalu saya mencoba menghayati kenapa Bunda Maria disebut terpuji diantara wanita.
Saya kemudian membayangkan Bunda Maria saat diberi kabar oleh malaikat Tuhan. Bunda Maria yang saat itu belum menikah diberitakan akan mengandung dari Roh Kudus. Wanita mana yang tidak terkejut membayangkan harus mengandung padahal belum menikah, dan apa kata orang nanti ? Tapi Bunda Maria saat itu tetap taat pada rencana Allah dengan mengatakan "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu." Menurut saya, tidak mudah Bunda Maria mengatakan hal itu, kalau ia tidak benar-benar taat dan beriman kepada Allah. Maka ia membiarkan Rahmat Allah bekerja dalam dirinya sesuai kehendak Allah. Allah pun akhirnya memberikan solusi atas ketaatan Bunda Maria, dengan menggerakkan hati tunangannya, Yosef, untuk ikut menerima rencana Allah dalam diri Bunda Maria, dan mereka kemudian membentuk sebuah keluarga kudus.
Lalu saya membayangkan Bunda Maria yang harus melahirkan di sebuah tempat yang sangat sederhana, yaitu sebuah kandang domba. Saya membayangkan bagaimana sakitnya saat seorang wanita melahirkan anak. Biasanya para calon orang tua akan mempersiapkan rumah sakit serta dokter terbaik agar persalinan dapat berjalan dengan lancar. Namun itu tidak terjadi pada diri Bunda Maria. Seluruh tempat penginapan yang saat itu penuh, membuatnya harus melahirkan di sebuah kandang. Namun Bunda Maria tidak pernah mengeluh dengan keadaan itu. Ia menerima kondisi itu apa adanya, dan tetap dipenuhi kebahagiaan atas kelahiran bayi Yesus, walaupun semuanya itu dilakukan dalam kesederhanaan.
Saya membayangkan lagi saat Bunda Maria menyaksikan sendiri putra tunggalnya Yesus Kristus disiksa dan disalib. Saat itu Yesus berusia 33 tahun. Saya membayangkan usia Yesus yang sudah sebesar itu, tentu banyak kenangan manis yang telah dilaluinya bersama Bunda Maria selama hidupnya. Saya lalu membayangkan Gaby. Menjadi mama Gaby selama 8 tahun saja sudah membuat saya begitu menyayanginya, dan begitu banyak kenangan manis bersamanya, apalagi Bunda Maria yang putranya saat itu sudah berusia 33 tahun.
Ketika Yesus jatuh untuk yang kedua kalinya, Bunda Maria berusaha menerobos kerumunan orang banyak agar bisa mendampingi Yesus dengan penuh duka. Bunda Maria menyaksikan derita Yesus sejak pukulan paku yang pertama hingga tusukan tombak. Saat Yesus diturunkan dari Salib setelah meninggal, Bunda Maria memangku jenazah Yesus yang penuh dengan darah dan luka si sekujur tubuhnya.
Saya membayangkan ketika anak-anak saya demam atau sakit, khususnya waktu bayi, pasti saya sudah tidak bisa tidur. Saya selalu menggendong bayi saya ketika sedang demam dan terus memantau suhu tubuhnya agar tidak terjadi step ( dengan memberikan kompres air hangat dan obat penurun panas ). Seringkali saya begadang kalau bayi saya sedang sakit. Dan puji Tuhan kedua anak saya tidak pernah mengalami step ketika terserang demam.
Hati seorang ibu pasti sangat mencintai anaknya. Bila melihat anak sukses dan bahagia, yang paling berbahagia atas kebahagiaan anaknya adalah ibu yang melahirkannya. Dan juga bila anak mengalami kegagalan dan kekecewaan, yang paling merasakan penderitaan sang anak juga adalah ibu yang telah melahirkannya.
Mungkin sudah kodrat bagi seorang ibu untuk memiliki kontak batin yang begitu dalam dengan anak-anaknya.
Saya terus membayangkan, siksaan dan luka-luka yang diterima Yesus mulai dari Gabata, lalu selama perjalanan menuju Kalvari, sampai pada proses penyaliban Yesus, yang pastinya sangat mengoyak hati Bunda Maria, ibunya.
Dalam keterkoyakan hati yang mendalam Bunda Maria tetap tegar dan tetap taat kepada rencana Allah Bapa atas diri putranya Yesus Kristus.
Ketegaran hati Bunda Maria yang luar biasa begitu menyentuh hati saya pada malam itu. Saya mau terus belajar meneladani Bunda Maria. Sejak malam itu pula saya lebih bisa merasakan betapa tegarnya hati Bunda Maria dalam mendampingi Yesus yang menderita siksaan kejam sampai pada wafatnya di kayu salib.
Saya membayangkan kronologi tenggelamnya Gaby ( berdasarkan cerita teman-temannya ) tanpa melihat secara langsung kejadiannya saja sudah membuat hati ini seperti disayat-sayat, apalagi kalau harus menyaksikan langsung.
Lalu saya mengucapkan kalimat "Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati." Saya merasa bersyukur sebab ada Bunda Maria yang setia mendoakan saya selama saya hidup di dunia ini dan bahkan sampai saya mati kelak.
Malam itu saya menyelesaikan Doa Rosario dengan penuh penghayatan dan derai air mata. Doa Rosario malam itu adalah Doa Rosario yang paling menyentuh hati saya, yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Itulah cara Tuhan dalam menguatkan saya secara luar biasa, dan di luar kemampuan saya. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita dalam menjalani suka duka kehidupan ini. Amin.
Sungguh ‘ku bangga Bapa,
punya Allah seperti Engkau.
Sungguh ‘ku bangga Yesus,
atas s’gala pengorbananMu.
Tak ingin aku hidup lepas dari kasihMu,
kasihMu menyelamatkan dan b’riku pengharapan.
Reff :
Kini ‘ku persembahkan apa yang aku miliki,
memang tiada berarti bila dibanding dengan kasihMu.
Namun ‘ku ingin memb’ri dengan sukacita di hati,
kar’na ‘ku tau ini menyenangkan hatiMu.

Sunday, February 7, 2016

Field Trip ke Kampung Maen Cibubur


Pagi itu, tanggal 25 November 2014 Gaby bangun tidur dengan bersemangat. Dia takut ketinggalan bus rombongan sekolahnya yang akan mengadakan Field Trip ke Kampoeng Maen Cibubur.
Dress codenya baju merah dan celana pendek selutut ( disarankan yang sudah sedikit usang / jangan yang masih bagus, sebab akan kotor ketika main-main di lumpur ).
Sampai di sekolah, sambil menunggu keberangkatan, mama sempat fotoin Gaby dan teman dekatnya ( Tanisha ). Setelah itu mama dan dede menunggu Gaby sampai busnya berangkat.
Saat sore hari, mama jemput Gaby kembali di sekolah. Saat itu mama dan dede menuggu lebih dari 2 jam di sekolah, sebab katanya rombongan bisnya terjebak macet. Sampai-sampai mama ngga bisa antar dede les mandarin karena mamanya harus tungguin cie-cie Gaby yang belum juga tiba di sekolah. Mama sudah deg-degan aja nunggunya, takut terjadi apa-apa sama Gaby, sebab baru pertama kali itu Gaby pergi jauh-jauh tanpa ditemani mama dan papa.
Setelah bus rombongan yang membawa Gaby tiba di sekolah, lega rasanya perasaan mama. Pas mama lihat Gaby turun dari bus, langsung Gaby kasih lihat topi caping ini ke mama hasil kreasi Gaby. Topinya sampai sekarang masih mama simpan. Ma love Bie.


Imlek Pertama Tanpa Kehadiran Gaby, di tahun 2016



Imlek tahun 2016 ( tahun Monyet ) ini adalah Imlek pertama tanpa kehadiran Gaby di tengah-tengah kami. Biasanya pagi-pagi bangun tidur Gaby dan dede sudah Kiong Hi sama mama, papa, dan ama. We miss you Gaby and we always love you. GBU in Heaven Bibie.

Saturday, February 6, 2016

Seperti Disayat-sayat Rasanya Hati ini Setiap Memandang Barang-barang Milik Gaby Sambil Menyadari Kalau Gaby Sudah Meninggal Dunia


Malam itu, tanggal 17 September 2015, saya memutuskan kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang milik Gaby yang dibutuhkan untuk dibawa kembali ke rumah duka. Sekitar pukul 23.30, kami tiba di rumah. Chelsea dan omanya bersiap untuk istirahat. Malam itu Chelsea terlihat sangat lelah setelah berkali-kali muntah di perjalanan pulang ke rumah. 

Saya langsung mandi, dan bersiap-siap untuk kembali ke Rumah Duka. Saya mengumpulkan barang-barang Gaby satu per satu, mulai dari Foto Gaby yang akan diletakkan di depan peti jenazah ( foto itu adalah foto 1 bulan sebelum kejadian Gaby tenggelam, yang diambil di Kidzania pada tanggal 16 Agustus 2015. Foto itu menjadi kenangan Gaby yang pertama dan terakhir berkunjung dan bermain di Kidzania ), Boneka Teddy Bear kesayangan Gaby yang saat itu masih terbaring di ranjangnya, Award Gaby, Baju Renang Gaby yang seharusnya dia pakai keesokan harinya untuk les renang, baju kesukaan Gaby, Bando kesayangannya, Gelang hasil kreasinya sendiri ( saat acara Natal 2014 di aula Gereja St. Matias Rasul ), Jam tangan Hello Kitty hadiah ulangtahunnya yang ke 7 tahun dari mama, dan mainan kesayangannya yaitu Congklak dan Monopoli.

Congklak dan Boneka Teddy Bear adalah hadiah ultah Gaby yang ke 8 tahun dari omanya. Sedangkan monopoli dan Dompet Teddy Bear adalah kado ultah Gaby yang ke 8 dari mama.

Memandang congklak milik Gaby yang berwarna hijau itu, kembali mengingatkan saya tentang kenangan kami saat bermain congklak itu. Kami biasanya bermain congklak di kamar tidur saya. Kami pernah bermain congklak dan membuat ketentuan bahwa yang kalah akan dicoret mukanya pakai bedak. Dan waktu itu muka Gaby penuh coretan bedak akibat kalah terus main congklak sama mama. Sayang muka lucu Gaby yang saat itu penuh coretan bedak tidak saya abadikan.

Yang membuat saya menyesal, adalah beberapa minggu sebelum kejadian tenggelam itu, Gaby kembali mengajak saya bermain congklak bersama. Saat itu sudah cukup malam dan saya sudah ngantuk berat. Gaby dengan bersemangat terus mengajak saya bermain congklak, bahkan congklaknya sudah disetting “tujuh-tujuh” pada setiap lubangnya, jadi sudah siap untuk dimainkan. Sayang sekali saya menolak permintaan Gaby dan bilang “Mainnya besok aja Bie, udah malem. Mama udah ngantuk. Bobo aja yuk.” Dan tidak lama setelah saya berkata demikian, tiba-tiba Chelsea berjalan melewati congklak yang sudah disetting itu, dan tanpa sengaja congklaknya ketendang. Walhasil semua biji congklaknya berhamburan di lantai. Gaby sangat kecewa dan berkata “Mama sih ngga sayang Bibie. Aku ngga mau main congklak lagi sama mama."  Dan sejak saat itu Gaby tidak pernah mengajak saya bermain congklak lagi, sampai peristiwa naas itu terjadi.

Kalau Monopoli, biasanya kami memainkannya di kantor, sebab kalau monopoli tidak seru dimainkan berdua saja, sementara Chelsea masih belum mengerti kalau diajak bermain Monopoli. Jadi Monopoli itu dibawa ke kantor dan kami bermain bersama staff saya di saat tidak ada pelanggan yang datang. Terakhir kali bermain monopoli, kami memainkannya ber empat ( saya, Gaby, dan 2 orang staff saya yaitu Kak Esti dan Kak Fani ). Waktu itu sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba ada pelanggan datang, jadi permainannya tertunda. Supaya next time tidak usah dari awal lagi kalau mau dilanjutkan, maka diberi tanda property masing-masing ( uang milik masing-masing diberi tanda sesuai nama masing-masing ). Saat saya hendak memasukkan monopoli itu ke dalam peti jenazah, saya coba memeriksa isi dalam kotak monopoli itu, dan ternyata masih ada tulisan “Uang Gaby, Uang mama, Uang Esti, Uang Fani.” Maaf ya Bie kita belum sempat menyelesaikan permainan monopolinya sampai tuntas. Semoga Bibie bisa melanjutkan bermain congklak dan monopolinya bersama para malaikat dan teman-teman baru Gaby di Surga.

Setelah itu, saya mencari Diary Gaby. Diary yang covernya saya design secara khusus sebagai hadiah Natal tahun 2013 untuk Gaby. Diary itu saya pesan dari luar kota. Waktu itu, diary itu saya berikan kepada Gaby sambil berpesan “Bibie simpen sendiri nih diarynya. Kalo ada peristiwa penting apa yang mau Bibie catet, dicatet yang rapi di diary ini. Kalo lagi happy atau sedih tulis aja di diarynya. Nanti bisa buat kenang-kenangan. Tapi kalo bisa nulisnya yang bagus. Jangan dicorat-coret sebab ini diarynya bagus. Jadi sayang kalo Cuma buat dicorat-coret. Kalo ngga, Bibie simpen aja buat kalo udah gede baru dipakai diarynya” Dan Gaby menjawab “Oke.”

Saya cari keberadaan diary itu kesana kemari, sebab saya mau memasukkan diary itu ke dalam peti jenazah, karena diary itu memang khusus saya berikan untuk Gaby. Akhirnya saya menemukan juga diary Gaby. Rupanya Gaby menyimpan diarynya di dalam lemari omanya. Saya cek, diary itu masih kosong. Gaby belum sempat menuliskan apapun ke dalam diarynya itu.

Seperti disayat-sayat rasanya hati ini setiap memandang barang-barang milik Gaby sambil menyadari kalau Gaby sudah tidak bisa lagi memakai semua barang-barangnya, dan BAHWA GABY TELAH MENINGGAL DUNIA.

Perasaan tidak percaya, seperti mimpi, sedih, hancur, rasanya campur aduk di dalam hati saya. Walaupun saya mencoba untuk selalu pasrah kepada Tuhan dan mencoba menerima kenyataan ini dengan penuh keikhlasan kepada Tuhan, namun kegalauan tetap saja menyelimuti hati saya sebagai seorang manusia biasa pada saat itu.

Setelah semua barang-barang Gaby terkumpul, saya bersiap untuk segera kembali ke Rumah Duka. Namun saat hendak pergi, saya melihat Chelsea tidurnya sangat gelisah. Seperti kaget-kagetan tidak seperti biasanya. Mungkin dia shock dengan kenyataan cie-cie kesayangannya meninggal dunia. Melihat kondisi Chelsea seperti itu, saya jadi ragu untuk meninggalkannya pergi.

Saya lalu memutuskan untuk menemani Chelsea tidur di sampingnya malam itu. Saya telpon papa Gaby dan mengabarkan kalau Chelsea tidak bisa ditinggal. Akhirnya papa Gaby juga pulang ke rumah, dan adiknya papa Gaby yang menunggu jenazah Gaby di Rumah Duka.

Keseokan paginya, kami baru kembali ke Rumah Duka.

“Bibie Mau Ngga Kasih Bunga Mawar Buat Bunda Maria ?”

Papa Gaby membelikan sebuah Rosario yang cukup bagus untuk Gaby, supaya kalau besar nanti Gaby bisa menggunakannya untuk berdoa kepada Bunda Maria, Bunda Yesus ( sesuai dengan iman Katholik yang kami anut ).

Dulu, setelah saya baru menikah dan belum memiliki anak, saya dan papa Gaby suka menghadiri persekutuan doa Perduki ( Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia ) Chapter Barat di daerah Green Ville. Dalam persekutuan doa itu, pembicaranya menjelaskan tentang makna doa Rosario. Dari sana saya mengetahui bahwa setiap kali kita mendaraskan doa Rosario satu putaran penuh ( 50 butir ), sama artinya dengan kita mempersembahkan sekuntum Bunga Mawar untuk Bunda Maria.
Saat papa Gaby memberikan Rosario itu kepada Gaby, saya sempat bilang kepada Gaby “Bie, Rosarionya bagus ni. Nanti kalau sudah gede Bibie pakai Rosario ini ya buat berdoa kepada Bunda Maria. Kalau kita berdoa Rosario, sama aja kita memberikan sekuntum Bunga Mawar buat Bunda Maria. Bibie mau ngga kasih Bunga Mawar buat Bunda Maria ?” Gaby menjawab “Wah so cool ya bisa kasih Bunga Mawar ke Bunda Maria. Aku mau ma.”
Mama berkata lagi “Bibie mau kasih bunganya sedikit apa banyak buat Bunda Maria ?” Gaby menjawab “Yang banyak dong ma biar Bunda Marianya seneng.”
Mama berkata lagi “Nah kalo begitu Bibie nanti kalo sudah besar harus rajin doa Rosario ya. Kasih Bunga Mawar yang banyak buat Bunda Maria.”
Dan Gaby menganggukkan kepala dengan bersemangat.
Namun kenyataan berkata lain. Rosario ini belum pernah dipakai oleh Gaby untuk mempersembahkan Bunga Mawar kepada Bunda Maria, Bunda Yesus.
Rosario ini kini saya gunakan setiap hari untuk mendoakan ketenangan arwah Gaby. Mulai sejak malam pertama Gaby meninggal dunia, sampai hari ini, Rosario ini senantiasa menemani saya berdoa.
Saat di rumah duka, hati saya selalu terdorong untuk berdoa Rosario di samping peti Jenazah Gaby. Jadi disaat tamu tidak terlalu banyak, saya selalu mendekat ke Peti Jenazah anak saya dan berdoa Rosario.
Sama seperti saya selalu mengantar Gaby ke pintu gerbang sekolahnya setiap hari, saya juga ingin mengantar jiwa Gaby ke pintu gerbang Surga. Saya yakin doa seorang ibu kepada anaknya sangat besar kuasanya. Dan saya juga percaya kalau Surga ada di telapak kaki Ibu. Jadi sudah menjadi tugas saya sebagai seorang ibu untuk selalu mendoakan Gaby agar dia mendapatkan kebahagiaan abadi di surga.
Saya yakin Bunda Maria sangat mengasihi Gaby dan telah mengantarkan Gaby kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat.
Betapa senangnya saya saat membayangkan kini Gaby bersama Bunda Maria, Para Malaikat dan Orang Kudus di Surga, memuji dan memuliakan Bapa, Putra dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya.
Semoga suatu hari nanti, saya juga bisa ikut ambil bagian dalam kebahagiaan itu.
Amin.
Lagu di bawah ini dulu sering kami nyanyikan berdua saat perjalanan dari rumah menuju ke sekolah PlayGroupnya. Waktu itu mama belum terlalu lancar nyetir mobil. Karena mama takut nabrak orang di jalan, sepanjang jalan mama nyanyi lagu ini, dan Gaby ikut bernyanyi bersama mama.
Salam Maria, rahmat Tuhan sertaMu,
Bunda Yesus Kristus, doakanlah kami.
Salam Maria, Engkau Bunda Gereja,
lindungilah kami, doakan putraMu.
Salam Maria, Ratu Surga dan Bumi,
terpujilah Engkau di sepanjang masa

Wednesday, February 3, 2016

“Ma, Kapan Kita Naik Gojek Lagi ?”



Pagi itu, Agustus 2015, sekitar satu bulan sebelum peristiwa tenggelamnya Gaby di kolam renang sekolahnya, kami berangkat ke sekolah bersama-sama. Papa Gaby juga ikut mengantar sekolah pada hari itu.

Baru mau menuju keluar komplek, jalanan macet total sampai tidak bisa bergerak sama sekali dan benar-benar tidak jelas harus berapa lama kami terjebak kemacetan itu. Sementara waktu terus berjalan, saya mulai berpikir agar anak-anak saya tidak terlambat parah sampai di sekolahnya.

Kemudian saya mencoba memesan Gojek untuk pertama kalinya ( sebelumnya saya belum pernah memesan Gojek, dan aplikasi Gojek itu baru beberapa hari terpasang di HP saya. Mekanisme pemesanannya saya sudah pernah diberitahu oleh staff saya yang biasa memesan Gojek ).

Dari dalam kendaraan yang terjebak macet, yang masih berada di tengah komplek ( masih cukup jauh jaraknya sampai ke pintu gerbang utama komplek perumahan itu ), saya mencoba memesan Gojek. Saya mengisi alamat penjemputan di sekitar lokasi kendaraan dimana saya tengah terjebak macet, dan tidak lama Abang Gojeknya tiba.

Disitu kembali lagi terjadi persaingan antara Gaby dan dedenya. Keduanya sama-sama mau naik Gojek karena takut terlambat. Sementara saya berpikir Abang Gojeknya pasti akan keberatan bila harus mengangkut seorang ibu dan 2 orang anak secara bersamaan. Dan lagi pula hal itu terlalu berbahaya. Maka saya mau tidak mau harus memilih salah satu dari mereka.

Keduanya bersiap mau ikut saya naik Gojek. Kemudian saya memutuskan Gaby saja yang naik Gojek bersama saya, sebab dia sudah kelas 3 SD, kalau terlambat nanti ketinggalan pelajaran, sementara dedenya melanjutkan bermacet-macet ria dengan papanya.

Saat Gaby sudah bersiap turun dari kendaraan kami, dedenya menangis kejer mau ikut turun juga. Tadinya saya sempat beralih perhatian ke dedenya yang menangis sejadi-jadinya itu. Namun saat saya bilang “Dede aja yah Bie yang naik Gojek.” Air mata Gaby langsung mengalir keluar. Kalau Gaby sudah nangis berlinang air mata, saya selalu diliputi perasaan tidak tega. Jadi saya akhirnya tetap pada pendirian saya. Tetap Gaby yang ikut saya naik Gojek untuk mengejar waktu.

Kepergian saya dan Gaby naik Gojek diiringi oleh tangisan dede yang meraung-raung. Kata papanya, tangisannya berlangsung selama 30 menit nonstop dari sejak kami turun dari kendaraan.
Dari atas Gojek, kami meluncur dan melihat betapa kemacetan itu benar-benar parah. Dari tengah komplek sampai ring road arah lampu merah puri macet total akibat perbaikan jalan ( jalannya diuruk dan ditinggikan agar tidak banjir lagi kalau musim hujan ). Setelah mengambil jalan tikus, akhirnya kami sampai juga di sekolah.

Saat turun dari motor, Gaby berkata “Lho kok mama ngga bayar Abang Gojeknya ?” Mama jawab “Udah bayar Bie, motong deposit, tapi depositnya juga masih yang gratisan soalnya lagi promo baru bergabung dapat rp. 50.000 di saldo secara otomatis.” Dan Gaby berkata “So cool banget mama naik Gojek ngga bayar. Emangnya ngga apa-apa tuh ma ngga bayar. Ih, so cool banget.”

Kami tiba di sekolah agak telat, dan saya antar Gaby sampai ke tangga lantai 1, sekalian memberitahukan guru kelas dedenya Gaby, bahwa dedenya Gaby sedang terjebak macet parah di jalan. Ternyata hari itu bukan kami saja yang telat, tetapi beberapa teman yang melewati rute yang sama dengan kami juga datang terlambat hari itu akibat macet total.

Saat pulang sekolah Gaby bercerita kepada saya “Ma tadi Bibie cerita ke temen-temen kalo kita naik Gojek gratis. Mama ngga bayar Abang Gojeknya. Temen-temen semuanya pada ngga percaya, masa mama naik Gojek ngga bayar. Yang lain juga pada belom pernah naik Gojek. Baru Bibie doing yang udah pernah naik Gojek. Ternyata naik Gojek enak juga ya ma. Ma, besok kita naik Gojek lagi ya.” Mama menjawab “Kalo macet aja Bie naik Gojeknya, kalo ngga nanti si dede nangis kejer lagi ngga berenti-berenti.” Lalu dede menyahut “Besok giliran dede yang naik Gojek. Cie-cie kan udah tadi naik Gojeknya. Dede belom. Besok giliran dede yah ma.” Namun keesokan harinya ternyata jalanan tidak terlalu macet, jadi kami tidak memesan Gojek lagi.

Beruntungnya saat itu saya mengambil keputusan yang tepat, yaitu memilih Gaby dulu yang naik Gojek, walaupun dedenya menangis lebih keras dari Gaby ( supaya dia terpilih ). Ternyata pengalaman naik Gojek bersama Gaby hari itu adalah pengalaman yang pertama dan terakhir bagi kami.

Setelah pengalaman itu, Gaby sempat bertanya kepada saya “MA, KAPAN KITA NAIK GOJEK LAGI ?”
Saya rasa mungkin Abang Gojeknya masih ingat dengan Gaby, sebab Abang Gojeknya mengantar kami tepat sampai ke depan pintu masuk sekolah yang bagian dalam. Gaby memakai seragam batik biru seperti di foto ini saat naik Gojek bersama saya.

Terima kasih Abang Gojek untuk kenangan manisnya bersama Gaby di tengah kemacetan hari itu.